...semburat ketulusan dalam balut kesederhanaan...

Special Thanks


pristafitrinia.blogspot.com Mengucapkan :

Terima Kasih Yang Sebesar-Besarnya Kepada Dimas [3PrODuction*]

Yang telah berperan dalam memperindah dan memramaikan blog ini.
Terima kasih untuk wallpaper, kalender, on-line chatting with Yahoo Messenger, 'Search&Fine' button, counter, dll.



*3PrODuction (Graphic Design, 2D/3D Animation-Modelling, Web Design, Motion Graphics, Videography, Broadcast Design)

BATU, Si Kecil Yang Besar

Kecil-kecil cabai rawit. Itu istilah yang maksudnya sesuatu yang kecil, yang biasanya diremehkan, tapi mempunyai kekuatan besar di dalamnya. Ibarat cabai rawit yang penampilan fisiknya kecil tapi rasa pedas yang dihasilkannya di lidah kita membekas dengan tajamnya. Beda banget kalau dibandingkan dengan cabai merah atau cabai hijau yang bodinya jauh lebih besar tapi nggak begitu terasa pedasnya.

Nah, batu (khususnya kerikil yang berserakan dijalanan) itu ibarat si cabai rawit. Walaupun fisiknya kecil tapi ternyata sanggup melahirkan`akibat yang besar. Batu bisa bikin penyebab kecelakaan, baik, motor, mobil, ataupun untuk pejalan kaki. Gimana nggak, cuma gara-gara batu kecil yang terkadang berserakan di jalanan, seorang pengendara motor bisa terjatuh. Belum lagi sebuah batu yang terlindas oleh sebuah kendaraan, kemudian mental ke mobil di belakangnya dan terkena kaca depannya, otomatis si pengendara pasti kaget dan bisa mengakibatkan hilangnya konsentrasi si sopir yang akhirnya membuat suatu kecelakaan. Bisa juga batu tersebut menghantam kaca dengan kencang dan mengakibatkan kaca pecah dan pecahannya masuk ke mata. Sebuah batu yang teronggok tidak bertanggung jawab di jalanan ternyata sanggup melukai seorang pejalan kaki yang nggak sengaja menginjaknya, kemudian terjatuh karena tersandung. Besar kan akibat yang ditimbulkan sebuah batu yang fisiknya imut-imut itu?!?

Baru-baru ini, ada seorang pengendara motor yang terjatuh karena menghindari batu yang teronggok tak bertanggung jawab di depan gedung YTKI, Jakarta. Padahal motor itu nggak melaju dengan kecepatan tinggi. Dan parahnya, si pengendara motor itu sampai jatuh terlempar setelah terseret sebentar yang mengakibatkan sisi kiri motornya lecet parah, helm sisi kiri juga baret-baret parah, jelana jins dan jaket jins tebal yang juga sobek tergesek aspal, badan yang penuh luka, dan kaki yang bengkak segede kaki gajah. Bahkan si korban sampai nggak bisa jalan dan terpaksa harus vakum dari pekerjaannya untuk waktu yang lumayan lama. Dahsyat kan akibatnya, padahal cuma menghindari sebuah batu yang nggak bisa dibilang besar. Nggak salah kan kalau batu dibilang kecil-kecil cabai rawit?!?

Tapi kalau boleh saran..jalanan di sekitar jalan Gatot Subroto, MT. Haryono, dan sekitarnya itu memang nggak ramah sama para pengemudi, terutama pengemudi motor. Udah banyak lubangnya, aspal jalanannya juga bergelombang. Banyak banget korban (kecelakaan) yang terjadi di sekitar jalan itu. Apa pemerintah nggak berminat memperbaikinya? Kan bisa mengurangi tingkat kecelakaan lalu lintas yang terjadi di sekitar jalan itu. Lagipula, apa fungsinya petugas kebersihan jalan raya kalau batu-batuan juga masih berserakan di jalanan?!?

Si Pencuri Ide

Pernah nggak lo ngerasa sebel banget sama seseorang yang kerjanya mengambil ide kita atau meniru apapun yang kita lakukan?!? Gue pernah! Sering banget malah! Dan parahnya orang yang paling sering ngelakuin itu adalah orang terdekat gue sendiri.

Kalo ditanya gimana rasanya, gue akan bilang dengan sekuat tenaga : MENYEBALKAN!! Kalo yang dilakukan adalah meniru apa yang kita lakukan, sih masih lebih mending, karena setidaknya kita si pemilik ide udah mencoba ide kita duluan, baru dia yang jadi follower-nya. Setidaknya orang-orang udah lebih dulu tahu kalau kita yang duluan mencoba/memakainya. Bodo amat, deh dia mau ngikutin kita, toh dia sendiri yang malu jadi penjiplak. Tapi kalau yang diambil itu ide dasar kita yang belum sempat dilaksanakan?!? Apa kabarnya diri kita si pemilik ide?!? Mau ngakuin kalau ide itu milik kita, nggak mungkin, karena kenyataannya 'si-pencuri-ide' itu yang udah duluan berhasil mempublikasikannya. Sedangkan kita ssebagai pemilik ide cuma bisa gigit jari melihat dia dengan jumawa dan bangganya memamerkan 'hasil penemuan gadungannya' ke semua orang. Bete, kan?!?

Dan gue sering banget ngerasain hal terakhir itu. Orang lain mengambil ide gue sebelum gue sempat melakukannya. Emang bener, deh kalau jangan pernah mengungkapkan ide kita ke orang lain. Karena biar gimanapun juga kita nggak pernah tahu gimana kejujuran orang itu. Iya, gue memang menganggap pengambilan ide ini sejauh itu, termasuk dalam kategori jujur atau nggak jujur seseorang.

Dan itu bukan sekali ini dia berlaku kayak gitu. Udah sering banget! Dari masalah baju, casing HP, tas, dompet, perlengkapan make-up, dll. (saking banyaknya gue udah sampe nggak inget lagi). Emang, sih nggak semuanya dia ngambil ide dasar gue, banyakan jadi penirunya. Tapi tetep aja bete dan kesel banget!

Yang gue nggak habis pikir, kenapa dia nggak nanya dulu atau ngomong baik-baik dulu ke gue sebelum dia ngelakuinnya?!? Kalau orang kayak gitu enaknya diapain ya??!?? Mau diajak ribut, masih nggak enak karena masih termasuk orang terdekat. Mau didiemin kok kayaknya malah makin menjadi-jadi ya?!?!!!

Kok Nggak Dandan?!?

Kenapa sih cewek itu selalu identik dengan kotak make-up? Apa iya kaum cewek nggak bisa hidup tanpa itu semua? I don't think so! Tanpa dandan cewek tetap bisa melanjutkan hidup, kok. Dandan itu kan cuma sekedar alat atau media untuk mempercantik diri. Dan menurut gue, kecantikan abadi itu bukan berasal dari polesan make-up, tapi dari dalam diri kita sendiri. Jadi kalau kita udah merasa cantik, buat apa lagi dandan pake segala macam peralatan make-up yang malah bikin semuanya terlihat artifisial?!?

Padahal gara-gara kelamaan dandan demi memperoleh penampilan yang lebih oke, kita sering banget jadi terlambat datang ke suatu acara. Atau kalaupun nggak telat, berarti kita harus meluangkan lebih banyak waktu untuk berdandan, dan itu berarti kita harus mengurangi waktu yang seharusnya bisa kita gunakan untuk melakukan hal lain. Malahan kayaknya ritual dandan ini bisa bikin pasangan kita naik darah karena harus nunggu kita dandan. Nggak jarang

Tapi ya itu tadi, kebanyakan kaum hawa di belahan dunia manapun masih menganggap bahwa dandan itu perlu. Mungkin bahkan termasuk ke dalam daftar kegiatan utama yang harus dilakukan dalam hidup. Apalagi untuk acara-acara tertentu yang dianggap membutuhkan alat pendongkrak penampilan untuk meningkatkan pede. Bahkan kayaknya dandan untuk mempercantik diri udah menjadi sebuah gaya hidup. Ngerti kan maksdunya?

Gini aja, deh contoh simpelnya..saat kamu datang ke sebuah acara resepsi pernikahan atau gala dinner dengan tanpa make-up, pasti akan banyak orang yang mengenalmu yang melontarkan pertanyaan ini : kok elo nggak dandan, sih?!? Padahal si orang yang tanpa make-up ini nggak terlihat buruk sama sekali. Tapi nyatanya polesan make-up bisa langsung berpengaruh terhadap pandangan orang ke kita. Nah, betapa pentingnya dandan, sampai-sampai perlu untuk ditanyakan. Ini nyata, lho..memang ada kejadian seperti itu yang menanyakan perihal nggak dandan itu.

Don't Judge A Book By Its Cover, Don't Judge A Person By His/Her Style

Don't judge a book by it's cover!! Ungkapan ini sebenarnya berlaku buat semua hal. Bahwa kita nggak boleh menilai sesuatu hanya dari kulit luarnya aja, karena apa yang terkandung di dalamnya belum tentu sama dengan apa yang terlihat dari luar.

Kalau gue menilai pernyataan itu lebih ke arah positif. Maksudnya gini lho, pada kebanyakan kasus, pernyataan ini diartikan kalau yang terkandung di dalamnya pasti nggak jauh beda dengan apa yang terlihat dari luar. Misalnya aja, ada seseorang dengan wajah menyeramkan layaknya seorang pembunuh bayaran kelas kakap, tapi ternyata sifat yang dia punya justru baik banget. Padahal semua orang yang melihatnya sudah berkesimpulan kalau dia itu jahat sesuai dengan yang terlihat. Memang sih kalau semua itu bisa merugikan. Gimana nggak merugikan? Kalau si orang seram itu berniat mau menolong seseorang, tapi malah ditolak uluran tangannya cuma gara-gara orang yang akan ditolong takut melihat wajah dan penampilannya yang menyeramkan. Kan kasihan si orang seramnya yang udah berniat baik malah dicurigai.

Sayangnya di negara kita tercinta ini ungkapan itu masih banyak nggak berlakunya. Kebanyakan masih menilai sesuatu hanya berdasarkan apa yang terlihat di luarnya. Emang, sih kalau mengingat angka tingkat kejahatan di negara ini, khususnya di Jakarta yang sangat tinggi, kita jadi selalu merasa perlu untuk berhati-hati. Mungkin karena alasan itu pula mengapa kebanyakan orang cuma menilai dari luarnya aja, kalau dari luarnya seram berarti dia penjahat, begitu pun sebaliknya. Makanya penipuan juga jadi makin banyak, karena para penjahat yang bermuka 'baik-baik' bisa mengelabui korbannya dengan sangat mudah.

Tapi ada juga beberapa orang yang nggak menerapkan ini saat seleksi calon pegawai di perusahaan/institusi yang dia miliki/pimpin. Misalnya aj, gue pernah tau kalau ada sebuah institusi pendidikan informal (tempat kursus di Citra Gran, Cibubur) yang memilih calon pengajarnya berdasarkan apa yang terlihat. Si pemilik menilai pelamar hanya berdasarkan gaya berpakaian dan dari kampus mana si pelamar berasal. Gue ngerasa kalau si pemilik ini terlalu kolot jalan pikirannya, makanya gue jadi mengeluarkan statement baru : Don't Judge A Person By His/Her Style!!

Ada seorang pelamar dengan latar belakang pendidikan dari universitas swasta bergengsi di kawasan Jakarta Barat. Kampus itu memang terkenal dengan kalangan borjuis-nya. Setelah melewati tahapan tes tertulis, si pelamar melanjutkan dengan interview dengan pemilik. Dan si pemilik tanpa merasa perlu untuk berkenalan dengan pelamar tersebut langsung menyatakan bahwa dia nggak layak untuk bekerja di institusi miliknya. Awalnya si pemilik nggak mau memberitahukan alasannya, tapi setelah didesak akhirnya dia mengatakan : sejak awal saya melihat gaya kamu, cara kamu berpakaian, dan ditunjang dengan latar belakang pendidikan kamu dari universitas T yang terkenal dengan borjuis, saya langsung berkesimpulan kalau profil kamu nggak sesuai dengan tempat ini.

Mau marah nggak, sih?!? Padahal berdasarkan hasil tes tertulis, si pelamar dinyatakan lulus. Apa yang salah dengan celana bahan model lurus warna pink pastel yang dipadukan dengan kemeja pink muda yang lengannya digulung sampai atas siku dan ikat pinggang kecil warna hitam, serta flat shoes warna senada?!? Kayaknya itu setelan normal orang yang melamar kerja, deh! Nggak ada yang terlalu berlebihan, kan? Gaya rambut dan dandanan pun bisa dikatakan biasa, rambut ekor kuda dan make-up natural juga hal yang wajar bagi seorang pelamar kerja, kan?!? Terus apa yang salah dengan gaya si pelamar? Apalagi kalau dilihat dari almamaternya, memang apa yang salah dengan kampus borjuis?!? Apa semua yang lulus dari kampus itu terus anak orang kaya? Apa semua yang lulus dari kampus itu semuanya dianggap nggak akan becus dalam bekerja? Apa semua yang berasal dari kampus itu dinilai nggak bertanggung jawab?

Oke, kalau si pemilik sudah mewawancara si pelamar, mungkin ceritanya akan jadi beda. Mungkin ada sikap si pelamar yang nggak disukainya, atau gaya bicara yang dianggap nggak sopan. Nah, ini..belum masuk tahap perkenalan, si pemilik sudah men-judge si pelamar sejauh itu. Dan parahnya, dia memberikan stempel bahwa semua yang lulus dari universitas swasta sama sekali nggak pantas bekerja di tempatnya, karena dia menilai kalau mereka yang berasal dari universitas swasta itu nggak bertanggung jawab terhadap pekerjaan!!

Gila, kan?!? Betapa hebatnya si pemilik institusi itu bisa menghasilkan penilaian sejauh itu kepada seseorang hanya berdasarkan apa yang terlihat. Dan ternyata si pemilik sama sekali nggak punya latar belakang psikologi!! Dia mampu meremehkan seseorang hanya dari luarnya aja. Dia nggak pernah berpikir kalau mungkin saja orang tersebut ternyata memiliki potensi yang jauh lebih besar ketimbang yang dibayangkannya. Dia berpikir bahwa pengenalan lebih lanjut itu nggak penting, karena dia lebih percaya pada matanya.

Di Bawah Lima Ribu


Pernah nggak kepikir buat makan dengan harga di bawah lima ribu, apalagi di jaman yang apa-apanya serba mahal kayak sekarang ini? Kalo gue, gue akan menjawab gue pengen makan murah tapi apa iya masih ada?!? Buat gue makanan yang mengenyangkan dengan harga lima ribu aja udah termasuk murah, apalagi kalo inget sekarang ini semua bahan baku mahalnya minta ampun.

Ditambah lagi banyak kasus yang memanfaatkan makanan basi atau kadaluwarsa yang kemudian dikemas ulang dengan kemasan baru yang terlihat menggoda dan dijual dengan harga murah. Makanya sejak isu itu santer banget beredar, gue jadi ogah nyari makanan murah. Bukan berarti sombong dan banyak duit, tapi menurut gue kesehatan itu jauh lebih penting dan lebih berharga ketimbang duit lima ribu yang kita pakai buat membayar makanan murah. Sekarang kita cuma keluar duit lima ribu buat makan, tapi besoknya kita sakit yang membutuhkan biaya beratus-ratus kali lipat duit lima ribu itu. Mendingan mana? Gue sih lebih milih makan mahalan dikit tapi sehat, ketimbang harus bayar biaya pengobatan.


Tapi percaya nggak sih kalo baru-baru ini gue dibikin kaget, takjub, dan terkagum-kagum sama makanan yang gue beli. Ceritanya cowok gue yang lagi sakit pagi itu minta dibeliin bubur ayam. Kebayang nggak pagi-pagi buta gue harus nyari bubur ayam enak dimana? Apalagi mengingat rumah gue itu di daerah yang jarang tukang dagang kelilingnya. Walhasil, sepanjang perjalanan di alternatif Cibubur mata gue ngeliat ke kiri jalan buat nyari tukang bubur yang kali aja lagi mangkal. Akhirnya gue berhasil nemu tukang bubur dengan gerobak warna coklat yang mangkal di depan tempat pencucian mobil yang merangkap sebagai toko keramik. Akhirnya setelah melewati berbagai kegiatan untuk menyiapkan pesanan gue, abang penjual buburnya menyodorkan gue plastik hitam yang penuh berisi kotak sterofoam dan plastik bubur. Pas gue tanya berapa, dia jawab tujuh ribu!! Gue langsung ngambil uang dua puluh ribuan di kantong. And guess what? Si abang ngembaliin duit gue 13ribu! Gue sampai bengong sejenak terus bilang kalau kembaliannya kelebihan. Si abang menjelaskan kalau 7ribu itu adalah total belanja gue (2 porsi bubur ayam). Sumpah, gue sukses melongo! Nggak nyangka hari gini masih ada aja makanan yang dijual dengan harga di bawah lima ribu.

PolPek Nggak (Lagi) Cepek


Tau PolPek kan? Iya, Polisi Cepek! Sebagian orang juga menyebutnya Pak Ogah (tokoh di film anak-anak "UNYIL" yang selalu meminta uang cepek). Maksudnya orang yang berdiri di setiap putaran balik ataupun persimpangan jalan yang padat dan tanpa traffict light. Biasanya mereka berfungsi sebagai polisi pengganti yang membantu si pengguna jalan yang ingin berputar arah (muter balik) atau melewati sebuah persimpangan yang sembrawut dengan imbalan sekeping logaman bernilai (minimal) seratus rupiah. Tugas mereka adalah menahan arus (memblokir jalanan) untuk suatu waktu tertentu, agar pengguna jalan yang akan putar arah atau menyeberangi simpangan yang crowded dan tanpa rambu lalu lintas bisa lewat dengan mudah.

Kenapa mereka terkenal dengan sebutan PolPek? Alasannya ya itu tadi, mereka berfungsi sebagai polisi yang mengatur jalanan tapi dengan imbalan sekeping uang logam seratus rupiah, atau yang dikenal dengan cepek. Makanya mereka dikenal sebagai PolPek alias Polisi Cepek.

Sebenarnya sih kalau dipikir-pikir, sekeping seratus rupiah nggak sebanding dengan resiko yang mereka dapat saat mereka menjalankan tugas mereka. Bayangin aja mereka harus pasang badan buat nyetopin mobil-mobil yang lewat dengan kecepatan tinggi. Kebayang kan resiko apa yang menunggu di depan mereka? Yup! Ketabarak mobil atau kendaraan lain yang nggak mau ngalah, akibatnya bisa luka-luka, cacat, atau bahkan meninggal.

Bayangin aja, kalau satu mobil ngasih cepek, misalnya sehari ada 500 mobil yang ngasih duit ke mereka, mereka cuma dapet 50ribu. Nggak banyak kan? Masalahnya, di satu puteran itu, PolPek nggak mungkin kerja sendirian, minimal mereka berdua, berarti uang hasilnya dibagi dua. Makin nggak dapet apa-apa lagi kan? Padahal sekarang biaya hidup udah mahal. Mau dikasih makan apa keluarga mereka?

Tapi gue salut banget sama PolPek ini, mereka bisa tahan kerja berjam-jam demi uang yang nggak seberapa. Emang, sih kadang kehadiran mereka bikin jalanan macet, karena mereka memberhentikan kendaraan yang lewat tanpa pertimbangan waktu. Tapi gimanapun juga, kehadiran mereka itu membantu, kok, apalagi di persimpangan yang ramai atau di putaran jalan yang arusnya padat. Dan mereka nggak pandang bulu dalam melaksanakan tugasnya, mau si pemutar ini memberikan kepingan-kepingan uang atau nggak, mereka tetap mencarikan jalan.

Sampai akhirnya seiring dengan kenaikan harga berbagai macam barang, kepingan-kepingan yang dilemparkan ke PolPek juga berubah nilai menjadi dua ratus rupiah, lima ratus rupiah (gopek), atau bahkan selembar uang kertas seribu rupiah. Dengan adanya perubahan itu, kepingan seratus jadi nggak berharga, mayoritas orang yang menggunakan jasa PolPek ini melemparkan sekeping lima ratus rupiah.

Dan gara-gara perubahan itu juga, jadi ada sebuah kejadian nggak enak di sebuah putara yang pernah gue alamin sendiri. Waktu itu gue sama teman-teman mau muter balik (daerahnya gue lupa), si supir memberikan dua keping uang logam dua ratus ke PolPek yang 'bertugas'. Itu pun karena emang nggak ada lagi uang receh di dalam mobil, bahkan setelah disurvey ke semua penumpang mobil yang rata-rata hanya punya uang lima ribu sebagai pecahan terkecil di dompet mereka.
You know what? Si PolPek melemparkan uang pemberian kita ke kaca mobil dengan kencang (kena bagian belakang, karena posisinya saat itu mobil udah muter balik) sambil berteriak dengan lantangnya, "Dua ratus nggak dapet apa-apa!!" Dan pas dilihat, kaca mobilnya baret karena lemparan kencang uang logam itu.

Dari situ, gue jadi agak-agak menarik simpati gue ke PolPek ini. Emang sih nggak semua PolPek berkelakuan kayak gitu, tapi tetep aja gue udah terlanjur kesel. PolPek bukan lagi sekedar sampingan, tapi udah jadi sebuah mata pencaharian beberapa kalangan penduduk di Indonesia. Makanya saat kita memberikan uang yang nggak sesuai dengan yang mereka harapkan, mereka jadi marah yang imbasnya bisa sampai merusak properti kita.

Ketika Kepentingan Sendiri Bukan Suatu Keegoisan


Pernah dengar kata-kata : kalo lo ngeduluin kepentingan diri lo sendiri itu namanya lo egois? Pati sering banget! Apalagi dulu jaman SD, SMP, bahkan sampai duduk di bangku kuliah, setiap kali belajar PMP, PPKn, Kewiraan (atau apalah namanya sekarang), selalu ditekankan kalau kita harus mendahulukan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

Tapi pernah nggak kepikir kalau kita terus-terusan memperjuangkan kepentingan bersama, apa kabarnya diri kita sendiri? Kalo gue lebih milih buat menyeimbangkan keduanya. Biarkan keduanya berjalan bersisian.

Ada kalanya kepentingan sendiri itu bukan sebuah keegoisan. Contoh kecil aja : waktu jaman kita sekolah atau kuliah. Saat kita berperan jadi si pintar yang selalu bisa mengerjakan soal-soal ujian ataupun tugas-tugas kuliah, kita pasti dihadapkan pada sebuah dilema. Apalagi kalau kita termasuk kategori si pintar yang gaul dan punya banyak teman, pasti kita langsung berubah jadi center point, jadi pusat perhatian semua orang yang menggantungkan nasib kelulusannya ke kita. Tiba-tiba aja semua orang, bahkan sebelumnya nggak dikenal, mau duduk di sekitar kita. Dan itu semua cuma buat nyontek jawaban kita atau sekedar nanya-nanya tentang apa yang mereka nggak tahu. Kalau keadaan itu udah terbentuk, yang bisa kita harapkan cuma mendapatkan si pencontek yang nggak rese dan berani mati. Karena pencontek model ini nggak bakalanan mengganggu kerja kita. Dia akan menggunakan keterampilannya buat menyalin pekerjaan kita, tanpa bisik-bisik, grasak-grusuk, dan mencolek-colek kita biar dikasih jawaban kita.

Divorce : Dari Siapa Untuk Siapa??


Sebuah perceraian PASTI BUKAN suatu hal yang diinginkan/direncanakan oleh pasangan manapun pada saat mereka memutuskan untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Biar gimanapun yang namanya perceraian itu adalah perpisahan. Dan yang namanya perpisahan itu banyakan nggak enaknya ketimbang enaknya. Tapi semua itu tergantung dari mana kita memandang. Tergantung dari sudut pandang mana, apa, dan siapa kita menilai.

Banyak contoh kasus yang membuat banyak orang mengeluarkan statement : "divorce is the worst thing ever to do!" atau "divorce is the least thing to do!" Semua itu berakar pada kenyataan bahwa yang namanya perpisahan itu jarang ada yang enak, alias banyakan nggak enaknya. Everybody has his/her own reason to make the best decission in his/her life.

Misalnya aja ada sebuah keluarga dengan dua orang anak yang masih duduk di bangku SD. Kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai dengan alasan finansial. Si istri selalu mendesak suaminya yang notabene adalah fotografer semi-pro untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dengan taraf seorang milyarder. Karena si suami merasa terbebani dan bosan karena selalu dirongrong dengan berbagai permintaan sang istri dan keluarga besarnya yang nggak masuk akal, hidup pernikahan mereka cuma diisi pertengkaran dan pertengkaran. Akhirnya mereka memutuskan untuk bercerai. Sahabat mereka yang mendengar hal ini berusaha keras menentang keputusan ini. Dia bahkan berusaha dengan berbagai cara, mulai dari menasihati sampai lewat jasa cenayang supaya pasangan ini nggak cerai. Alasan yang dikemukakan si sahabat adalah : kalau mereka jadi cerai, kasihan anak-anaknya. Si cenayang, sih oke-oke aja ngebantuinnya. Mungkin dia berpikir kalau apa yang dia lakukan juga bukan hal yang negatif.

Dari usaha si sahabat yang mengupayakan segala cara untuk membuat mereka rujuk dan tanpa sepengetahuan yang bersangkutan, pasangan itu nggak jadi erai. Mereka rujuk lagi, balik tinggal satu rumah lagi, padahal tadinya mereka udah sempat pisah rumah.

Emang sih, endingnya jadi baik. Tapi baik buat siapa? Baik buat si anak dan perkembangannya, karena mereka bisa punya keluarga yang utuh dengan orang tua yang (mungkin terlihat) harmonis. Pernah nggak sih ada yang berpikir gimana nasib si kedua orang tua yang mau bercerai ini? Apa keputusan untuk membatalkan cerai ini juga baik buat pasangan itu? Kenapa sih tiap kali ada yang mau cerai, pasti pihak ketiga yang melihatnya selalu bilang : kasihan anak-anak. Apa mereka nggak berpikir gimana rasanya hidup bersama orang yang udah nggak satu visi dan misi.

Kalo gue lebih memilih buat menilai perceraian itu nggak hanya dari segi si anak. Gue akan mempertimbangkan gimana rasanya jadi si orang tua yang akan bercerai ini. Pasti bukan perkara mudah, membatalkan perceraian yang pastinya timbul karena sebuah ketidakcocokan yang berkepanjangan, dan mengubahnya jadi sebuah kecocokan dalam waktu yang relatif singkat. Jadi gue nggak akan ikutan arus yang bilang kalau perceraian itu nggak sehat buat si anak. Menurut gue, nerusin hubungan yang udah mau hancur juga nggak sehat buat si pasangan suami istri itu. Apa sih enaknya hidup dalam ketidakcocokan? Gue sih nggak janji, deh.

Let's say ada yang bilang kalo orang tua itu hidup untuk anak. Jadi apapun yang terjadi, mereka tetap harus bertahan buat si anak. Hellow..orang tua itu kan juga manusia, yang punya emosi dan hati yang nggak bisa terus-terusan dipaksa buat menerima apa yang terjadi (ketidakcocokan). Toh, walaupun orang tua cerai, seorang anak nggak akan berubah status jadi mantan anak. Walaupun orang tua nggak tinggal serumah lagi, si anak kan tetap punya dua orang tua.

Jadi sebenarnya keputusan cerai itu baik buat siapa? Tergantung dari segi mana kita memandang masalahnya dan seberapa berat masalah di balik ide perceraian itu.

Kedai Kopi Dunia Mimpi


Coffee shop itu bernama Pojok Kopi, terletak di salah satu sudut mal di lantai dasar. Sesuai namanya, tempat ini terletak di salah satu pojokan yang malah membuat tempat itu terkesan tenang dan private. Ornamen Jawa mendominasi ruangan coffee shop yang tidak terlalu luas. Mungkin karena barangnya terlalu padat, tempat ini jadi terkesan sempit. Coffee shop ini mempunyai dua akses masuk, langsung dari teras gedung yang terhubung langsung dengan parkiran dan dari dalam gedung. Tempat ini terbagi atas tiga bagian ruangan. Ruangan dalam coffee shop dengan disain modern etnik, bagian teras luar yang menyatu dengan lingkungan luar gedung, dan teras belakang yang berada di dalam gedung.

Bagian dalam ruangan yang diterangi cahaya kekuningan dipenuhi dengan empat set meja untuk berdua dengan meja kayu bundar berukir yang dipasangkan dengan sofa kulit single-seat berwarna coklat tua yang diletakkan menyebar di tepi ruangan sebelah kiri. Dinding kaca di sampingnya memungkinkan pengunjung yang duduk di dalam untuk melihat ke luar. Dua set meja untuk empat orang dengan meja kotak berukir yang dipasangkan dengan dua sofa twin-seat berwarna senada diletakkan di tengah ruangan. Meja bar berbentuk siku yang terbuat dari kayu setinggi dada orang dewasa yang berfungsi sebagai tempat memesan, kasir, dan tempat membuat pesanan diletakkan di sisi sebelah kanan sejajar dengan kedua akses masuk. Sebuah meja kecil yang berfungsi sebagai tempat gula, tissue, sedotan, dan berbagai macam pelengkap minum kopi lainnya diletakkan persis di sebelah kiri meja bar. Di belakangnya terdapat dinding bercat warna coklat muda dengan beberapa pajangan dan lukisan yang tergantung. Papan menu yang terbuat dari kayu berwarna hitam dengan bentuk tulisan menarik yang ditulis dengan kapur warna-warni digantung di tembok paling atas di belakang meja bar. Tulisan ‘WE’RE OPEN’ tergantung di kedua pintu kaca dengan list kayu berwarna coklat terang. Keseluruhan ruangan itu didominasi oleh gradasi warna coklat, mulai coklat muda untuk furniture, coklat terang untuk list pintu dan jendela, sampai coklat muda untuk temboknya. Ruangan ini dilengkapi dengan AC dan TV Flat yang digantung di langit-langit

Teras belakang yang berada di dalam gedung adalah non-smoking area, sama dengan bagian dalam ruangan. Beberapa pasang meja bulat yang dipasangkan dengan empat kursi kayu diletakkan sejajar ke samping. Tidak banyak yang dapat dilihat di bagian ini, karena letaknya yang menyatu dengan gedung pusat perbelanjaan. Hanya ada dua tanaman dalam pot yang diletakkan di kedua sudut luar, seolah-olah sebagai pagar pembatas area coffee shop. Di dekat pintu masuk terdapat dua lampion rotan yang digantung di langit-langit. Tulisan nama dan logo ‘Pojok Kopi’ tergantung di atas pintu yang diatur sedemikian rupa sehingga dapat terlihat dari segala arah. Di bagian terluar dari deretan meja-kursi terdapat sebuah papan tulis ukuran sedang berwarna hitam dengan tulisan kapur warna-warni yang memuat berbagai informasi mengenai menu baru ataupun bentuk promosi yang dilakukan Pojok Kopi.

Teras depan adalah bagian yang paling aku suka. Bagian ini adalah satu-satunya smoking area di tempat ini. Terdapat sepuluh set meja dan kursi dari besi tempa berwarna coklat tua nyaris hitam yang diatur sedemikian rupa sehingga terlihat pas di area yang berbentuk persegi panjang itu. Tanaman-tanaman dalam pot tersebar di masing-masing sudut meja. Asbak yang menyerupai cawan terbuat dari kayu dengan ukiran di bagian luarnya diletakkan di masing-masing meja. Papan tulis serupa dengan di teras belakang diletakkan di bagian terluar dari barisan meja-kursi. Atap teras yang terbuat dari fiber yang dilapis tumpukan jerami yang menjuntai-juntai di ujung terluar atap teras. Hal ini membuat kesan tradisional menjadi kental. Dari tempat ini pengunjung dapat menghirup udara segar dan melihat pemandangan hijau yang berasal dari deretan pohon-pohon besar di sepanjang area parkir dan trotoar gedung yang berada tidak jauh dari teras. Tulisan dan logo Pojok Kopi digantung memenuhi atap teras terluar, sehingga dapat terlihat oleh siapapun yang lewati. Pagar bambusetinggi pinggang berdiri mengelilingi area teras, sebagai pembatas antara area Pojok Kopi dengan wilayah luar. Hanya di bagian pintu masuk pagar bambu itu terbuka.

Atmosfir yang diciptakan di teras depan yang dekat dengan alam menghasilkan rasa tersendiri. Walaupun bukan kedai kopi terkenal, tapi kopi yang mereka miliki kopi yang nggak kalah lezatnya dibandingkan dengan kopi dari kedai kopi terkenal. Harganya pun murah. Pojok Kopi juga menyediakan beberapa menu makanan, berat maupun ringan. Dan seperti kebanyakan kedai kopi yang tersebar di seantero jagad, Pojok Kopi juga menyediakan layanan free WiFi. Kebayang kan gimana nyamannya tempat ini, dengan harga murah, kopi yang enak, dan fasilitas yang diberikannya?

P.E.R.N.I.K.A.H.A.N


Everybody has his/her own opinion about this. Nggak sedikit juga yang menutup diri buat masalah ini. Tapi banyak juga yang menganggap ini adalah suatu momen sakral dalam hidup (kalo nggak boleh disebut kewajiban) yang harus (atau bahkan segera) dilakukan, gimanapun caranya dan dengan siapapun orangnya.

Banyak juga yang menghindar dengan alasan takut komitmen. Let's say, this is the story about a friend of mine. Si cowok yang berusia lebih muda beberapa tahun dari ceweknya takut banget sama yang namanya komitmen. Buat dia, pernikahan adalah suatu momok besar yang harus dihindari, apalagi di usianya sekarang. Bahkan saking parnonya, dia nggak pernah mau kalo diajak liat2 wedding fair..cara apapun bakal dilakuin buat menghindar biar nggak dateng ke acara itu. Sedangkan si cewek yang udah ditagih sama orang tuanya buat cepet2 nikah (mengingat umurnya yang udah 28..), nguber2 cowoknya buat nikah..alhasil, bukannya kita terima undangan dari mereka, malah denger cerita kalo mereka udah bubaran. Ada yang bilang cowoknya ngerasa dituntut buat ngelakuin apa yang belum mau (atau belum bisa?) dia lakuin. Si cowok punya banyak banget pertimbangan dan hal2 yang harus dipenuhin sebelum dia mutusin buat melangkah ke jenjang itu. Sedangkan si cewek mikirnya, nikah aja dulu dan biarin semuanya berjalan seiring waktu..yang penting semua suara dengungan di sekitar dia bisa berhenti.

And I think I can accept his reason!
Pada kenyataannya sebuah pernikahan emang bukan sebuah hal yang mudah untuk dijalanin. Mungkin akan terlihat mudah saat kita belum/nggak ngejalaninnya. Tapi nyatanya terlalu banyak cerita di balik semua itu. Karena menurut gue, sebuah pernikahan itu akan melibatkan hidup kita dengan beberapa orang baru yang tadinya asing buat kita dengan segala sifat, sikap, dan karakter yang berbeda2 tanpa terlepas dari segala norma yang berlaku dan sopan santun plus etika. Dan ini bukan hal yang mudah, ketika kita harus beradaptasi dengan sebuah lingkungan baru yang di dalamnya berisi berbagai macam karakter dengan keinginan yang beragam..karena ada yang namanya pasangan kita, mertua, ipar, dst di dalam lingkungan baru kita. Dan nggak menutup kemungkinan mereka menuntut kita buat melakukan apa yang sebelumnya nggak pernah terpikir buat kita lakuin atau nggak mau kita lakuin..dan demi segala norma, kesopanan, dan etika yang ada, kita harus tetap "tersenyum", segondok apapun kita.

In other way, nikah itu berarti ikhlas...lapang dada. Ikhlas nerima segala hal yang mungkin terjadi yang nggak sesuai dengan apa yang kita mau/yakini. Ikhlas nerima berbagai macam celaan, gosip internal keluarga, atau bahkan makian yang mungkin ada buat kita. Ikhlas nerima seseorang yang baru buat jadi keluarga kita. Ikhlas membagi apa yang kita punya buat pasangan kita (atau bahkan juga keluarganya, dan sebaliknya). Ikhlas nerima orang baru yang mungkin sebenernya nggak disukain oleh salah satu anggota keluarga kita (tapi demi sebuah pernikahan atau daripada nggak laku2, mending diterima). Ikhlas menerima hal yang sebenernya kita nggak setuju. Dan sejuta keikhlasan lain yang tetap harus terjaga demi kelanggengan pernikahan. Dan sebuah keikhlasan itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan!!

Pernikahan itu ibarat lotre. Kita nggak pernah bisa menduga apa yang bakalan dateng ke kita. Kita nggak tau kayak apa sebenernya orang yang nikah sama kita. Kita nggak tau sebaik apa pasangan kita. Kita nggak tau sampai kapan kita bisa mempertahankan pernikahan kita. Kita nggak tau apa pasangan kita setia atau nggak. Kita nggak akan tau nasib apa yang ada di kehidupan pernikahan kita. Yang kita tahu kebanyakan dari kita menikah dengan orang yang baik (atau terlihat baik) pada saat kita mengenalnya sebelum menikah. Itupun nggak menutup kemungkinan kalau keadaan akan berbalik setelahnya.
Sepupu gue nikah sama teman deketnya (yang harusnya dia udah kenal banget karakternya), tapi nyatanya dia tetap kesiksa. Segala hal harus dilakukan bareng suaminya. Mau pergi sama temennya nggak boleh, bakan mau pergi sama sodaranya pun nggak boleh. Sekali pun boleh, ada harga mahal yang harus dibayar..ada konsekuensinya. Bakalan dimarahin, dicemberutin, atau bahkan didiemin (nggak diajak ngomong) sampe berhari2.
Soooo childish!! Padahal kunci kelanggengan pernikahan kan salah satunya komunikasi yang baik. Lagian, bukannya dalam sebuah pernikahan itu dibutuhkan sebanyak2nya kedewasaan?? Siapa yang harusnya bertanggung jawab buat semua itu?? Tetep, semua balik ke orang2 yang terhubung dalam sebuah benang bernama PERNIKAHAN..pasangan itu sendiri yang harus bisa bersikap!! Nggak ada yang namanya menang-kalah, kuat-lemah, dst. dalam sebuah pernikahan yang sehat. Semua yang terlibat disitu adalah sama dan sejajar. Segalanya HARUS dilakukan atas dasar KEIKHLASAN!

Panas, Capek, dan Keikhlasan


Dalam keadaan capek, panas terik, di suatu terminal bus (tepatnya di atas bus kota mini yang hampir penuh terisi manusia dari berbagai lapisan) di Jakarta yang terlihat "angker", menahan lapar & haus & lain sebagainya karena menjalankan puasa...ego kita sebagai individu & perasaan bahwa tempat duduk dalam bus yang sudah kita duduki adalah milik kita!! Tanpa peduli apakah ada orang lain yang lebih membutuhkannya?!?

Tanpa disangka dan diundang, ditengah atmosfir keegoisan itu muncul seorang nenek yang naik dari pintu depan bus yang tempat duduknya sudah terisi penuh. Tidak ada yang berinisiatif untuk bangun dan merelakan tempatnya menjadi milik sang nenek yang sudah kepayahan, bahkan hanya sekedar untuk berdiri saja. Sang nenek menhampiri tempat duduk terdekat dengan tempat beliau naik, namun pria paruh baya - dengan dandanan rapih a la eksmud dan terlihat sangat berpendidikan- yang duduk disitu sama sekali tidak bergeming dan malah memejamkan matanya. Namun seorang wanita berpenampilan biasa, bahkan cenderung lusuh malah bangun dari tempatnya dan menyerahkannya kepada sang nenek.

Ternyata keikhlasan, ketulusan, dan kebaikan hati gak bisa dinilai dari penampilan luar. Jenjang pendidikan pun tak bisa dijadikan tolak ukur bahwa orang tersebut mempunyai naluri kemanusiaan dan kebaikan yang semakin baik..

Keramahan & Satisfaction a la Burger&Grill

Ternyata yang namanya keramahan dan customer satisfaction udah gak menjadi suatu hal yang harus diberikan oleh para pemilik usaha kepada pelanggannya dan menjadi suatu hal yang tidak penting untuk diperhatikan. Terlebih untuk mereka yang usahanya sudah tergolong "banjir" pengunjung.

Let me say, B&G adalah salah satu tempat makan yang udah punya lumayan banyak cabang di Jakarta. Ini berarti pelanggannya juga udah banyak dan dari berbagai lapisan masyarakat n' kategori umur. Tapi sayangnya, mereka lupa kalo apa yang mereka dapetin sekarang itu gak lepas dari peran para PELANGGAN!! Karena mereka gak lagi mengutamakan customer satisfaction.

Suatu hari, karena tuntutan tugas gw buat ngeliput bebarapa resto/cafe, gw memilih B&G sebagai salah satu nara sumber gw. Gw dateng ke salah satu cabangnya di pinggir selatan Jakarta n' ketemu sama penanggung jawab (katanya, sih..) disana. Gw ngasih contoh majalah, surat ijin peliputan , n' ngejelasin tentang tema majalah YAD. Pas malem itu kita ketemu, si penanggung jawab ramah banget nanggepinnya, apalagi pas dia tau kalo gw dari media dan bakalan ngeliput mereka GRATIS alias FREE OF CHARGE!! Pokoknya welcome banget, deh bahkan langsung bersedia untuk diliput, cuma tinggal konfirmasi waktunya aja. Akhirnya mereka ngasih dua nama sbg contact person, n' gw janji buat telpon mereka lagi buat konfirmasi waktu liputan. Besok sorenya gw coba telpon, tapi gak pernah bisa (mgk karena telpon yg mereka gunakan bukan fixed phone, jadi ada pengaruh signal). Finally, gw baru berhasil telpon mereka hari Senin. Gw langsung minta ngomong langsung sama salah satu dari contact person itu (yang ternyata salah satu dari mereka lagi off). Anehnya, pas gw tanyain gimana2nya, si A cuma bilang kalo dia gak bisa mutusin apa2, harus tunggu si B!! HElllooooo....plis, deh mas..kalo gak punya hak buat mutusin knapa juga ngasih nama n' nomer tlp buat konfirmasi!!??!!? Soooo...gw baru dpt kepastiannya hari Selasa buat liputan hari Kamis sore JAM 16.00 atau 17.00!!

Kamisnya, gw n' fotografer , bahkan sama GM gw juga - yg ternyata mau ketemuan sama temennya - dateng ke sana jam 17.35 dan langsung nyari sang contact person. Begitu manusianya nongol di depan muka gw, gw langsung nyodorin tangan buat salaman sambil nyebutin nama n' nama media gw, tapi apa responnya?? DIA GAK NANGGEPIN ULURAN TANGAN GW alias KITA GAK SALAMAN!!! Buat gw ini udah salah satu cermin ketidakramahan!! Dan dia malah ngeliat jam yang melingkar di pergelangan tangannya dengan gaya angkuh dan nada suara arogan dan judes, sambil bilang : jam berapa ini? saya tungguin dari tadi siang, tapi baru dateng sekarang. (Yuhuuuuwwww, mas2..gw bukan lagi anak SD yg bisa lo perlakuin kyk gitu! Dan gw rasa dia gak punya hak sama skali buat memperlakukan itu smua ke gw!) Gw masih coba buat ngejelasin kenapa kita telat dateng ke situ, tapi dia tetep aja JUTEK!! (wlpun sebenernya gw lebih percaya kalo tu orang gak nyambung/gak nangkep sama apa yg gw omongin, secara mukanya mlongo n bengong mampus gitu!!).

Stlh gw ngobrol2 dikit tentang bahan liputan hari itu, tau2 dia bilang kalo mereka udah siapin soto bakar n' burger buat bahan liputannya! Jelas aja gw kaget, secara gw udah bilang sebelumnya bahwa temanya steak and barbeque!! Dia masih berusaha meyakinkan gw kalo gw gak konfirmasi sebelumnya tentang itu smua! Dan dia malah mau ngebuktiin dengan ngambil proposal gw. Pdhal gw udah ngomong pas malem2 gw dateng kesana!! Berhubung gw inget kalo image media gw tetep harus dijaga (wlpun sebenernya gw udah dongkol setengah mampus, apalagi pas dia nantangin buat ngambil proposalnya)..akhirnya gw cuma bsa bilang : saya tanyain sama bos saya dulu, deh mas. Dan lagi2 tu orang gak nyambung, abis gw bilang gitu, dia langsung bangun dari kursi dan ninggalin meja tempat kita ngobrol TANPA PERMISI!! Ini udah jadi pertimbangan kedua gw buat masalah keramahan mereka.

Akhirnya gw putusin buat ngebatalin liputan disitu, secara gak nyambung banget sama temanya. Dan gw memilih duduk bergabung sama GM gw. Tadinya gw udah mau ngelupain smua kejadian gak enak antara gw dan pihak B&G ini, dan gw berniat memesan menu disitu dan MEMBAYARNYA!! Tapi sampe berkali2 gw manggil2, pelayannya gak ada yg nyamperin gw buat ngebawain menu!! Ini udah pertimbangan puncak gw buat nominasiin B&G sebagai tempat makan dengan SERVIS BURUK!!

Bayangin, setelah semua kejadian dengan sang contact person, gw duduk disitu sebagai seorang tamu/pelanggan yg seharusnya dilayani dengan baik..bukannya malah dicuekin. Dan yg sangat gw sayagkan, sang contact person keliatannya adalah seseorang yang lumayan punya jabatan disitu. Kalo atasan - yang harusnya ngasih contoh baik ke bawahannya - aja gak menerapkan customer satisfaction n' memeprlakukan pelanggan dengan ramah, gimana bawahannya mau ngikut??!!

Dari situ gw sempet mikir, kenapa perusahaan2 gede itu punya banyak pertimbangan dan tahapan buat perekrutan pegawainya..salah satu alasannya ya itu, karena mereka pengen ngedapetin pegawai yang terbaik di antara yang baik. Seperti kata dosen MSDM gw di S2, di dunia kerja, orang kita itu cuma butuh koneksi n' muka penjilat buat sekedar dapet kerjaan (yg cuman asal bisa dapet duit). Mereka gak menyeimbangkan antara brain dengan attitude yang mereka punya, cukup punya salah satunya aja udah aman. Makanya gak jarang kan kita nemuin orang di keramaian/tempat2 usaha yang ramah tapi gak nyambung kalo diajak ngomong, atau sebaliknya. Atau bisa juga mereka gak punya dua2nya, karena mereka udah ngerasa posisi mereka di atas, yang bisa seenaknya memperlakukan orang lain tanpa mereka berpikir siapa orang itu..padahal di atas langit masih ada langit!!