Saturday, November 28, 2009

dan ternyata selama ini saya salah.....

.....karena berpikir untuk berhenti menulis di blog ini.
.....karena saya pikir tidak ada orang yang mau membaca segala coretan-coretan kata yang saya buat di sini.

Karena ternyata, setelah sekian lama saya bergulat dengan pikiran-pikiran pesimistis itu dan berujung pada kesimpulan untuk berhenti menulis, saya mendapatkan sebuah kenyataan bahwa masih ada orang yang dengan setia membaca blog saya ini.

Dan sekarang, hanya rasa bersalah yang menggunung saat mengingat saya telah menyia-nyiakan suatu hal berharga.
Dan mulai sekarang, saya akan mulai untuk menulis lagi, untuk saya, dia, dan mereka yang begitu setia membaca coretan-coretan tak berguna yang saya buat ini.

Terima kasih, all of my readers.
Tanpa kalian dan fakta yang terungkap, mungkin blog ini sudah mati dan terkubur bersama kemampuan-kemampuan saya yang lain yang juga terlupakan begitu saja seiring dengan berjalannya waktu.

Dan semoga tidak ada kebosanan untuk tetap membaca dan mengunjungi blog saya ini...

[Read More]

Sunday, August 30, 2009

Another Death News

Hari ini saya banyak sekali mendengar dan melihat berita duka cita, baik secara langsung ataupun hanya sekedar membacanya di Home Facebook saya. Entah kenapa, rasa miris itu kembali hadir. Sejak sekitar dua tahun yang lalu, saat mendengar berita tentang kematian Ayah saya, saya jadi begitu membenci berita itu. Oke, mungkin bukan membenci, mungkin lebih tepatnya trauma yang begitu besar yang akhirnya membuat saya begitu takut mendengar berita semacam itu. Selalu ada rasa takut berlebih saat saya mendengar berita semacam ini.

Dan hari ini, lagi-lagi saya mendengarnya. Seorang sepupu dari pacar saya yang masih berumur belasan tahun sore ini meninggal dunia karena sakit. Walaupun dia bukan termasuk dalam inner circle keluarga inti saya, tapi rasa miris itu tetap datang menyerang. Saya tetap saja dilanda kesedihan. Saya tetap saja mengutuk dan mempertanyakan : kenapa, sih harus ada berita duka cita?

Sejak saat mendengar berita kematian Ayah saya, saya jadi begitu membenci suara telpon di tengah malam atau pada jam-jam tidak wajar lainnya. Setiap kali ada dering telpon pada jam-jam itu, pikiran-pikiran buruk selalu menghantui saya. Ya, nyatanya saya hanya terlihat kuat di luar, sebenarnya saya tetap saja menyimpan trauma, ketakutan, kepanikan, atau apapun itu namanya akan sebuah berita kematian.

Untuk semua kerabat, keluarga, sahabat, dan semua yang mendahului kami yang masih 'berdiri tegak' di dunia ini, saya mengucapkan :

"Innalillahi Wa Inna Illahi Rojiun, Semoga arwahmu diterima di sisi-Nya dan diberikan kemuliaan serta kelancaran jalan oleh-Nya. Diringankan segala dosa-dosanya dan bisa tenang di sana."

[Read More]

Friday, August 21, 2009

Happy Fasting, All..!! ;)

Hari ini adalah hari pertama puasa Ramadhan. Tapi kok kayaknya makin kesini, makin nggak kerasa ya nuansa sakral khas bulan Ramadhan-nya?!? Apa karena pengaruh kemajuan zaman, makanya makna dan kesakralan bulan Ramadhan jadi bergeser.

Kalo dulu-dulu, saya merasa, setiap bulan suci ini datang, setiap orang dengan gegap-gempita menyambut kedatangannya. Ucapan 'selamat menjalankan ibadah puasa' dan yang sejenisnya terpampang dimana-mana, mulai dari billboard, poster, spanduk, neonbox, dan banyak lagi. Tapi kalo sekarang kok kayaknya semua itu semakin terkikis ya?!?

Walaupun saya semakin nggak merasaka aura datangnya bulan suci Ramadahan pada tahun ini, tapi saya tetap senang dengan kedatangannya.

And after all, I just wanna say...

Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan 1430 H
Mohon Maaf Lahir & Bathin
...atas segala salah & khilaf, baik kata maupun tindakan yang pernah diperbuat, sengaja ataupun tidak...

[Read More]

Jangan Pernah Ingkari

...jangan pernah ingkari dan sangkal sesuatu yang pernah singgah di pikiranmu, sesuatu yang pernah singgah di alam bawah sadarmu yang akhirnya menguak lewat mimpi atau feeling yang begitu kuat akan suatu hal. karena kemungkinan perasaan itu benar-benar terjadi sangat besar...

[Read More]

Penyesalan Yang Datang Terlambat

Kamu tau? Aku menyesal!!
Aku menyesali segala yang pernah terjadi antara aku, kamu, dan dia!

Kalo aja waktu itu aku nggak pernah ngajak kamu buat nemenin aku...
Kalo aja waktu itu aku nggak pernah minta tolong sama kamu...
Kalo aja waktu itu aku nggak pernah ngasih tau kamu apapun...
Kalo aja waktu itu aku nggak pernah mempertemukan kalian...

Aku menyesal karena malam itu pernah mengajakmu bertemu dia!
Aku menyesal karena dari pertemuan itu, terungkap suatu fakta yang nggak penting tapi bisa membuat adanya benang merah antara kamu dan dia!
Aku menyesal karena pernah memintamu untuk membantu menjernihkan sesuatu!
Aku menyesal karena pernah mengijinkan kamu dan dia saling mengenal lebih dekat!

Kenapa aku terlalu percaya kamu?
Padahal bukan begitu seharusnya.
Harusnya aku menjaga kamu dengan baik, untuk diriku, bukan untuk tanpa sengaja diberikan kepada orang lain.
Harusnya aku mengatakan segala macam keberatanku atas hubungan barumu dengannya.
Tapi kenapa aku hanya diam?

Aku pernah berkata padamu, walaupun hanya sepintas lalu..bahwa aku nggak suka dengan yang kamu lakukan dengannya
Tapi apa jawabmu? Kita saudara!
Aku pernah memintamu menjauhinya, walau hanya sekali.
Tapi apa jawabmu? Kita saudara!

Sebenarnya, siapa yang punya posisi lebih kuat?
Aku..sebagai orang terdekatmu yang dihubungkan dengan suatu ikatan bernama pacar.
Atau dia..sebagai seseorang yang katanya saudaramu tapi tanpa hubungan darah. Hanya sebuah tali persaudaraan yang datang dari sebuah pernikahan di luar lingkup keluarga 'dalam'mu.
Atau keduanya punya hak yang sama akan kamu? Atau justru nggak ada yang punya hak akan kamu?

Semua penyesalan itu datang terlambat.
Dan pada akhirnya hanya menyakiti aku..yang diam-diam tau tentang apa yang kamu lakukan untuknya.
Dan cuma aku yang menangis tertahan, karena aku nggak mau kalian yang jadi pemenangnya.
Cuma aku yang menangisi segala yang terjadi...

Aku menangis...
Karena kamu memperlakukan dia dengan lebih baik..
Kamu memperlakukan dia dengan sangat baik, tanpa emosi, tanpa kemarahan seperti padaku..
Kamu memperlakukan dia melebihi aku yang kamu akui sebagai pacar!

AKU BENCI KAMU!!
AKU BENCI DIA!!
AKU BENCI KALIAN!!
AKU BENCI SEGALANYA!!

Padahal kamu tau ada aku di sini..
Tapi kamu (entah sadar atau nggak) bisa berlaku manis padanya..
Kamu bisa memperlakukan dia lebih baik dari yang kamu perbuat kepadaku..
Kamu memperlakukan dia seolah dialah yang ada di posisiku..
Kamu memperlakukan dia dengan perlakuan yang bahkan padaku pun nggak pernah kamu lakukan..

Lalu...
Siapa yang harus disalahkan?
Siapa yang harus mempertanggungjawabkan semua ini?
Segalanya sudah terlanjur..

Bukannya aku nggak percaya kamu..tapi kamu sendiri yang telah mengikis rasaku
Karena aku tau seperti apa kamu..bahkan kamu pernah berkata : kucing dikasih daging, ya nggak akan nolak!
Karena aku tau seperti apa dia..dia pun pernah menduakan hatinya!
Apa aku salah dengan ketakutan yang aku punya?

Rasa percayaku padamu terkikis perlahan
Berubah menjadi setipis kulit ari
Dan aku harus memutuskan, waktu atau aku yang bertindak duluan..
Untuk menemukan segala jawaban tentang apa yang terjadi pada hubungan ini..

[Read More]