...semburat ketulusan dalam balut kesederhanaan...

abso-fucking-lutely sucks!!!

Here and there...
Before and after...
And so on...and so on...

Apapun itu namanya, buat saya tetap sama saja.
Mau seperti apapun prosesnya, buat saya apa yang terjadi adalah 'kenistaan'!
Mau seperti apapun ending-nya, buat saya semua itu tetap akan menjadi 'a-sucks-thing'!!

Ketika saya harus merelakan diri saya 'diinjak-injak' sedemikian rupa oleh orang lain--yang begitu sangat ingin saya hindari, atau bahkan saya musnahkan keberadaannya. 
Tapi karena keadaan dan status, saya hanya bisa diam. 
Tanpa melakukan apapun untuk membela diri saya. 
Padahal sebenarnya saya mampu. Sebenarnya saya sanggup.

Dan pada akhirnya, yang bisa saya lakukan hanya: m e n a n g i s !!
Menangisi nasib saya.
Menangisi kebodohan saya yang tidak bisa membalikkan keadaan.
Menangisi ketololan saya yang hanya bisa pasrah tanpa membongkar kedok dia-si-munafik tentang segala kesalahan dan segala hal yang telah dia perbuat, dan membuktikan ke semua orang bahwa bukan saya yang bodoh dan salah!

Saya marah!!
Tapi tetap tidak bisa berbuat apapun, bahkan untuk sekedar melampiaskan kemarahan saya!
Dan akhirnya, saya hanya bisa berkata:

you just absofuckinglutely sucks, girl..!!!

...dan semoga sebuah kesadaran bahwa apa yang Anda perbuat itu salah segera menghampiri.

FICTION>> Wanitaku Tercipta Untuknya

Aku berdiri di sudut ruangan, menyibukkan diri dengan memandangi apapun yang bisa ditangkap kedua mataku. Sampai akhirnya mataku menangkap sosoknya. Sosok wanitaku.

Aku terkesiap. Terkejut dengan lonjakan kecil di hatiku. Ah, rasa itu masih ada, bahkan masih terlalu kuat. Dia menghampiriku dengan langkah anggun dan senyum sempurnanya.

“Harnindo?”

Dan aku hanya sanggup mengangguk, sambil berusaha membasahi kerongkonganku yang tiba-tiba terasa kering.

Lalu tanpa diduga, dia mendekatkan pipinya ke pipiku. “Apa kabar?”

Lagi-lagi aku hanya mengangguk.

FICTION>> Menggila Bersamanya

Berada di sebuah gedung tinggi di pagi seperti sekarang bukanlah hal menyenangkan. Saat ini waktu menunjukkan pukul 05:20, tapi karena ketakutanku akan kemacetan Jakarta, aku yang baru hari ini dipindahkan ke kantor pusat, memilih berangkat lebih awal. Alhasil, aku terperangkap dalam kesunyian gedung ini.

Aku berjalan menyusuri parkiran, lalu mataku tertumbuk pada sebuah kedai kopi. Dua orang barista terlihat membereskan meja-kursi. Aku membelokkan langkah ke sana.

“Maaf, kami baru buka pukul 06:00.”

“Ooh…kalau saya numpang duduk dulu, gapapa kan?”

Mereka mengiyakan.

“Makasih. Apa bisa pesan sekarang saja?”

Si barista mengangguk.

Minumanku datang pukul 06:03, bersamaan dengan munculnya seorang wanita. Rok terusan mini A-line hijaunya membuat tubuh tinggi langsingnya terlihat indah.

“Gila! Jakarta memang beda! Wanita cantik bertebaran dimana-mana!” gumamku. Lalu aku menertawakan kenorakanku.

FICTION>> Nyonya Besar

Dia melenggang penuh keyakinan, melewati gerbang kenikmatan tak kasat mata, memasuki dunia baru yang sebelumnya begitu jauh dari jangkauan. Bahkan untuk sekedar berharap pun terasa jauh.

Tapi tidak dengan hari ini, ketika dia berdiri di atas pelaminan penuh dekorasi, dengan antrian panjang tamu-tamu yang ingin memberikan ucapan selamat. Ketika semua sorot lampu tertuju padanya. Ketika kamera-kamera canggih mengabadikannya. Dengan bantuan perias profesional, wajah ‘biasa-biasa saja’ miliknya, disulap menjadi luar biasa. Manglingi, begitu orang menyebutnya. Senyum terindah yang bisa diberikannya pun tersungging di bibir.

Dia seolah berteriak kepada dunia tentang keberhasilannya menikah dengan orang yang dipilihnya. Orang yang menurutnya tepat dan bisa membawanya keluar dari segala kesengsaraan yang mengungkungnya seumur hidup. Dia tidak mempedulikan tatapan sinis atau melecehkan dari orang-orang yang—mungkin—tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yang dia tahu, sekarang dia berdiri di sini dan menikmati segalanya.

Obrolan Ringan yang Menyentil

Beberapa waktu lalu saya sempet chatting ringan sama salah satu teman saya. Dia nanyain soal blog ini, kenapa lama vakum dan ga ada tulisan-tulisan baru dalam jangka waktu yang cukup panjang. Jawaban saya waktu itu cuma cengengesan ga jelas. Padahal aslinya saya lagi dihantui Setan Malas!!

Sampai akhirnya dia juga nanyain soal Flash Fiction yang pernah beberapa kali saya tulis. Pertanyaannya pun sama, kenapa saya ga pernah lagi nulis flash fiction. Lagi-lagi jawaban saya waktu itu, ya cengengesan ga jelas via emoticon di YM.

Tapi ya itu tadi, alasan dasar dan utama saya ga pernahmenulis lagi (apapun jenisnya), ya karena saya sedang dihantui Setan Malas!! Yang membuat saya malas melakukan apapun, termasuk bangun pagi dan mandi pagi! :) Parah memang...tapi akhirnya, perlahan saya bisa menyingkirkan Setan Malas itu--sedikit demi sedikit. 

Makanya, supaya Setan Malas-nya ga datang menghantui lagi, sekarang saya mau post 3 judul Flash Fiction saya. Sebenernya, sih 3 judul FF ini adalah judul-judul yang saya post di blog Ubud Writer Festival 2010, tapi berhubung acaranya juga udah selesai dan saya ga menang, jadi ga ada salahnya kalau saya post semua itu di blog ini.

And here they are, my 3 Flash Fiction which will post into 3 blog tittles after this post!

Just read and enjoy them, and if you don't mind, please give your comment. ;)