FICTION>> Putih Abu-Abu
Aku berjalan pelan melewati gerbang besar berwarna hitam sambil tersenyum ke beberapa orang yang aku temui. Dugaanku, beberapa orang dari mereka adalah murid baru, dengan kemeja yang masih terlihat baru dan rok yang panjangnya melebihi lutut. Berani taruhan, di sekolah mana pun, yang terakhir pasti jadi identitas murid baru yang masih jaim dan takut melanggar aturan tak kasat mata yang dibuat para senior.
"Oke. Makasih infonya, Ndy," ucapku tanpa mengalihkan pandangan dari deretan kertas daftar pembagian kelas yang ditempel di papan pengumuan.
Aku berhasil menemukan namaku, Andarani Yudhianitya di kelas XI-5. Dan aku pun tersenyum lebar saat mataku tertumbuk pada satu nama di bawahnya. Anggoro Yudantyo. Angga.
Aku mengenalnya pada hari pertamaku di sekolah ini. Waktu itu dia yang membantuku melihat daftar pembagian kelas, karena tubuh kecilku tidak sanggup menembus kerumunan masa yang bergerombol di depan papan pengumuman. Dan akhirnya, cowok tinggi atletis berkulit coklat dengan sorot mata ramah itu menjadi sahabatku.
"Gue duluan, ya, Ndy. Mau ngasih tau Angga kalo kita sekelas lagi."
"Sori, ada yang liat Angga nggak?" tanyaku pada segerombolan cewek yang mengobrol di pinggir lapangan. Dan jawaban yang aku peroleh (lagi-lagi) hanya gelengan kepala.
"Ndy!" Nafasku terengah saat aku berhasil menemukan Andy di kantin belakang.
Keningku mengerut hebat. "Ada masalah apa, sih, Ndy? Kok gue dipanggil guru BP?"
"Ya udah, deh. Gue ke ruang Bu Dian dulu." Aku berbalik menuju ruangan Bu Dian dan lupa tujuanku awalku mencari Andy.
FICTION>> Sehelai Kain Batik, Segenggam Rasa Syukur, Secercah Harapan
"Nanti jemput saya jam lima tepat, Di. Jangan terlambat," katanya tegas kepada seorang anak muda yang berdiri di sampingnya.
Mardi, sopir pribadinya, mengangguk hormat. "Baik, Non." Mardi menutup pintu mobil, mengitari separuh bodi mobil, lalu melajukan mobil meninggalkan sekolah.
Shiria berjalan melintasi lobi dengan gaya memukau. Beberapa orang tersenyum padanya. Sebagian siswi menatap iri, para siswa pria melemparkan pandangan memuja, dan sisanya hanya menatap takut-takut ke arahnya atau bahkan tidak perduli dengan kehadirannya. Dan Shiria terus berjalan dalam balutan rasa percaya diri yang tinggi, tanpa terpengaruh keadaan sekitarnya.
"Pagi, Shir.." Enam orang cewek menyapa antusias, yang hanya dibalas Shiria dengan tatapan dingin.
Pagi ini Shiria benar-benar malas bermanis-manis dengan siapa pun, termasuk teman-teman geng-nya itu. Mood-nya merosot drastis gara-gara seragam baru yang dikenakannya. Tanpa melepas tas yang tersampir di pundaknya, Shiria membanting tubuhnya ke kursi, lalu sibuk dengan iPhone-nya.
"Shir..are you okay? Kenapa muka lo jutek banget, sih?" Tiara, teman sebangkunya, menghampiri Shiria yang sekarang sedang bersandar malas di bangkunya.
Shiria meliriknya sekilas, lalu memasukkan iPhone ke kantong kemejanya.
"Gabung sama anak-anak, yuk, Shir." ajak Tiara takut-takut. Cukup dengan melihat raut wajah Shiria, Tiara tahu kalau saat ini temannya itu sedang tidak berada dalam mood yang baik. Dan kalau hal itu terjadi, hanya ada dua hal yang Shiria lakukan : diam seribu bahasa seharian atau uring-uringan sambil marah-marah ke semua hal atau orang yang menurutnya salah dan mengganggunya.
Tanpa banyak bicara, Shiria meletakkan tasnya di meja, lalu bergerak malas-malasan meninggalkan mejanya, bergabung dengan geng-nya. Tiara menghembuskan nafas lega karena tidak harus menerima makian Shiria.
"Peraturan barunya nggak banget, deh. Masa kita disuruh pake beginian." Dengan muka muak Shiria menunjuk kemeja batik yang dipakainya. "Bayangin aja, kita harus ninggalin baju bebas kita. Padahal hari Jum'at adalah hari favorit gue di sekolah ini." Akhirnya Shiria buka suara, setelah sekian lama hanya diam memperhatikan teman-temannya membahas tentang peraturan baru di sekolah mereka yang mengharuskan siswanya memakai seragam batik setiap hari Jum'at.
Mereka mengangguk kompak, menyetujui pendapat Shiria.
FICTION>> Wanitaku Tercipta Untuknya
Aku terkesiap. Terkejut dengan lonjakan kecil di hatiku. Ah, rasa itu masih ada, bahkan masih terlalu kuat. Dia menghampiriku dengan langkah anggun dan senyum sempurnanya.
“Harnindo?”
Dan aku hanya sanggup mengangguk, sambil berusaha membasahi kerongkonganku yang tiba-tiba terasa kering.
Lalu tanpa diduga, dia mendekatkan pipinya ke pipiku. “Apa kabar?”
Lagi-lagi aku hanya mengangguk.
FICTION>> Menggila Bersamanya
Aku berjalan menyusuri parkiran, lalu mataku tertumbuk pada sebuah kedai kopi. Dua orang barista terlihat membereskan meja-kursi. Aku membelokkan langkah ke sana.
“Maaf, kami baru buka pukul 06:00.”
“Ooh…kalau saya numpang duduk dulu, gapapa kan?”
Mereka mengiyakan.
“Makasih. Apa bisa pesan sekarang saja?”
Si barista mengangguk.
Minumanku datang pukul 06:03, bersamaan dengan munculnya seorang wanita. Rok terusan mini A-line hijaunya membuat tubuh tinggi langsingnya terlihat indah.
“Gila! Jakarta memang beda! Wanita cantik bertebaran dimana-mana!” gumamku. Lalu aku menertawakan kenorakanku.
FICTION>> Nyonya Besar
Sorry Note
Blogging by Ms. Word
Hmmm..efektif juga nih posting blog lewat Ms. Word 2007.
Tinggal ketik sebanyak apapun yang kamu mau, terus klik Publish, pilih Blog. Setelah itu akan muncul satu window baru dengan tampilan seperti yang akan muncul di blog kamu. Setelah itu tinggal klik tombol Manage Account n' then klik Publish. Di dalam menu Manage Account kmu diminta memilih provider blog yang kamu ikuti, ada beberapa pilihannya, kok. Untuk provider blog yang umum digunakan, seperti : blogger/blogspot, wordpress, dan beberapa provider lainnya sudah langsung tersedia.
Buat yang mau posting banyak, kayaknya lebih efektif kalo lewat Ms. Word ketimbang posting langsung. Kekurangannya cuma : posting yang kamu lakukan nggak bisa 'dipecah' (semua langsung ke-post, tanpa bisa dijadikan sebuah summary).
Selamat mencoba…semoga bermanfaat.. ;)



