abso-fucking-lutely sucks!!!
H I T A M
not in the real happiness
out of the blue, tiba-tiba gue sadar kalo logo blog ini hilang dan kembali berubah jadi logo blogspot standar! padahal baru seneng dan antusias banget sama penampilan baru blog ini (warna baru, nama baru, template baru, disain baru, etc.) -- yang akhirnya bikin gue mau blogging lagi, balik posting lagi. tapi sekarang gue harus merelakan segala kesenangan dan antusiasme itu merosot perlahan-lahan, cuma gara-gara logo di window-tab yang menghilang.
T_T hiks..
It's sucks!
that makes me feel this not-in-the-real-happiness-feeling!
Penyesalan Yang Datang Terlambat
Aku menyesali segala yang pernah terjadi antara aku, kamu, dan dia!
Kalo aja waktu itu aku nggak pernah ngajak kamu buat nemenin aku...
Kalo aja waktu itu aku nggak pernah minta tolong sama kamu...
Kalo aja waktu itu aku nggak pernah ngasih tau kamu apapun...
Kalo aja waktu itu aku nggak pernah mempertemukan kalian...
Aku menyesal karena malam itu pernah mengajakmu bertemu dia!
Aku menyesal karena dari pertemuan itu, terungkap suatu fakta yang nggak penting tapi bisa membuat adanya benang merah antara kamu dan dia!
Aku menyesal karena pernah memintamu untuk membantu menjernihkan sesuatu!
Aku menyesal karena pernah mengijinkan kamu dan dia saling mengenal lebih dekat!
Kenapa aku terlalu percaya kamu?
Padahal bukan begitu seharusnya.
Harusnya aku menjaga kamu dengan baik, untuk diriku, bukan untuk tanpa sengaja diberikan kepada orang lain.
Harusnya aku mengatakan segala macam keberatanku atas hubungan barumu dengannya.
Tapi kenapa aku hanya diam?
Aku pernah berkata padamu, walaupun hanya sepintas lalu..bahwa aku nggak suka dengan yang kamu lakukan dengannya
Tapi apa jawabmu? Kita saudara!
Aku pernah memintamu menjauhinya, walau hanya sekali.
Tapi apa jawabmu? Kita saudara!
Sebenarnya, siapa yang punya posisi lebih kuat?
Aku..sebagai orang terdekatmu yang dihubungkan dengan suatu ikatan bernama pacar.
Atau dia..sebagai seseorang yang katanya saudaramu tapi tanpa hubungan darah. Hanya sebuah tali persaudaraan yang datang dari sebuah pernikahan di luar lingkup keluarga 'dalam'mu.
Atau keduanya punya hak yang sama akan kamu? Atau justru nggak ada yang punya hak akan kamu?
Semua penyesalan itu datang terlambat.
Dan pada akhirnya hanya menyakiti aku..yang diam-diam tau tentang apa yang kamu lakukan untuknya.
Dan cuma aku yang menangis tertahan, karena aku nggak mau kalian yang jadi pemenangnya.
Cuma aku yang menangisi segala yang terjadi...
Dasar Nyamuk Sialan!!!
Sebenarnya, sih saya nggak keberatan dengan tugas baru saya itu. Enak..bisa main air sambil menghirup aroma tanah basah yang menurut saya mempunyai aroma yang khas. Pokoknya saya menikmati 'pekerjaan' baru saya itu, sejak kakek saya yang biasa melakukannya pergi ke luar kota sebulan lalu. Tapi ada hal yang kadang membuat saya mengecam kegiatan saya ini, saya belum menemukan waktu yang benar-benar tepat untuk melakukannya.
Segalanya terasa serba salah. Kan kata orang, yang namanya nyiram tanaman itu dua kali sehari : pagi dan sore. Masalahnya, saya nggak rela kalau harus menyisihkan sedikit waktu pagi saya untuk menyiram tanaman. Saya lebih suka menghabiskan pagi saya dengan segelas minuman manis hangat sambil mengobrol ini-itu dengan siapapun yang saya temui di rumah.
Sedangkan kalo dilakukan siang hari, katanya nggak bagus nyiram tanaman di siang hari, saat matahari sedang bersinar terik dengan sombongnya, panas mentereng! Karena nggak bagus buat kelangsungan hidup tanamannya. Lagian, siapa juga yang mau menjebloskan dirinya dilahap sama panasnya sinar matahari?!
Jadi, satu-satunya waktu yang tersisa ya di sore hari. Emang enak, sih nyiram sore-sore..hawanya sejuk. Dingin. Dan nggak harus mengorbankan waktu untuk ritual bangun tidur saya di pagi hari. Cuma permasalahannya...kalo sore di halaman itu kayaknya para nyamuk sialan itu seolah berlomba menunjukkan eksistensinya di dunia. Tiba-tiba aja jadi banyak banget nyamuk di halaman. Dan saya paling nggak tahan dengan gigitan nyamuk, badan saya langsung gatal-gatal, bentol-bentol, dan merah kayak kepanggang.
Saya jadi merasa serba salah, jadi mendingan pilih yang mana : pagi atau siang? Sampai sekarang sih saya tetap memilih sore sebagai pilihan terbaik untuk waktu menyiram. Tapi yang menyebalkan, ya keberadaan para nyamuk sialan itu!!!
Arrrggghhh!!! Dasar nyamuk sialan!!! Gimana ya caranya ngatasin serangan nyamuk-nyamuk itu??!??
>:(
Rumah Baru Si Kutu
Iya..kutu! Binatang yang sukanya ada di makanan yang kadaluwarsa, nggak steril, atau bahkan di kepala manusia atau hewan-hewan berbulu.
Biasanya, kalo di makanan mentah dan kering, si Kutu paling sering ngendon di beras yang rusak. Tapi kali ini, si Kutu punya rumah baru. Dia menetap di dalam mie instant bungkusan.
Nah..parah bener, kan?!?
Jadi ceritanya, gue mau masak mie instant. Begitu air mendidih, mie instant yang masih utuh (berbentuk kotak) gue keluarin dari bungkusnya dan remahannya yang masih di dalam bungkus gue tuang ke panci. Tau-tau ada binatang ngapung di permukaan air, tadinya gue pikir itu semut, tapi setelah dilihat lagi, ternyata itu kutu. Berhubung mie yang masuk juga baru dikit, jadinya gue putusin buat ngebuang air itu dan menggantinya dengan yang baru.
Tapi apa yang terjadi dengan air baru itu?
Begitu mie instan yang masih utuh itu gue masukin, masih belum ada tanda-tanda keanehan apapun. Tapi setelah beberapa saat, di permukaan airnya (lagi-lagi) ada beberapa kutu yang terapung-apung. Saking penasarannya, gue buka lapisan mie instant yang belum begitu matang itu, dan ternyata di dalam lapisannya banyak banget kutu-kutu lain.
Nggak pake ba-bi-bu lagi, gue langsung buang itu mie setengah matang. Kenapa ya kok bisa begitu? Padahal gue nyimpen mie itu di lemari tertutup. Dan gue inget banget, kalo bungkus mie instant itu juga nggak rusak/sobek/terbuka sebelum gue membukanya. Terus dari mana asalnya kutu-kutu itu? Apa mienya emang udah kadaluwarsa? Tapi expired date-nya masih lama.
Kalo ada kejadian kayak gini, siapa yang salah dan siapa yang harusnya disalahkan? Gue sebagai si konsumen--yang mungkin aja dituduh nggak bener dalam cara penyimpanan--atau si produsen mie instant itu--yang mungkin aja melakukan kesalahan pada proses produksinya.
Intinya, hati-hati dengan makanan instant, apapun bentuknya.
;)
Bebaskan Ibu Prita Mulyasari
RS Omni Dapatkan Pasien dari Hasil Lab Fiktif
Prita Mulyasari - suaraPembaca
Jakarta - Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.
Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.
Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.
dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.
Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.
Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.
Wew..!!
Di hari libur kejepit kali ini (21 May 2009), saya mencoba membunuh waktu dengan mengunjungi tempat-tempat yang sebelumnya belum pernah saya kunjungi. Kali ini tujuan saya adalah sebuah kota yang terkenal dengan julukan kota hujan, Bogor. Sebenarnya, sih saya memilih tempat itu karena saya penasaran ingin melihat toko buku Gramedia yang katanya bertaraf internasional.
Setelah bergelut dengan kemacetan yang luar biasa di sepanjang jalan tol Jagorawi dan kota Bogor yang penuh dengan angkot dan bus antar kota yang berhenti sembarangan di tengah jalan tanpa memperdulikan pengguna jalan yang lain, akhirnya saya sampai di Botanic Square yang sore ini dipenuhi lautan manusia. Sumpah! Saking ramainya, sampai-sampai buat jalan dan window shopping aja susah. Akhirnya saya menyerah dan langsung melesat ke tujuan awal saya―tanpa merasa perlu untuk muter-muter menelusuri seluruh area mall―yaitu toko buku Gramedia. Tapi apa yang saya dapatkan di sana? Ayo tebak!
Yup..yang saya dapatkan justru hal-hal yang sangat berbeda dengan predikat yang disandangnya, sebagai toko buku bertaraf internasional. Buku-buku tidak ter-display dengan baik, berantakan, pokoknya semuanya serba tidak teratur. Saya serasa berada di pasar buku bekas, bukannya toko buku terkenal. Baru sebentar saya di sana, saya memutuskan untuk langsung ngeluyur keluar, meninggalkan tempat itu, padahal biasanya saya selalu betah berlama-lama di toko buku. Kesan yang saya dapatkan adalah : SEMRAWUT!!
Wew..!! Mengecewakan..!!
Bahkan untuk menemukan buku-buku favorit saya pun susahnya minta ampun. Ya itu tadi..saking berantakan dan nggak terstrukturnya penataan di tempat itu.
Kecewa (Part 2)
:(
How Stupid I Am...
Saking penasarannya pengen jadi the number one who has the biggest brain, gue bisa dengan ikhlasnya mantengin layar komputer atau pun laptop seharian penuh. Awalnya sih karena ngerasa asyik banget aja main game itu. Gemes banget rasanya kalo nggak berhasil mecahin 'teka-teki' yang ada. Tapi lama kelamaan malah jadi kecanduan.
Hehehehe...gue jadi addicted gitu sama game ini. Tapi sialnya, walaupun udah dimainin berkali-kali sepanjang hari, tetep aja gue nggak pernah berhasil jadi yang pertama dan mengalahkan pemain lain yang ada di friend list gue (tuh, nggak muluk-muluk kan keinginan gue? Cuma pengen jadi the number one di friend list, bukan juara dunia).
Dan tiba-tiba gue menyadari :
*sigh*
Hiks...
[menarik nafas panjang sambil mewek]
Tapiiii...apa iya gue sebodoh itu?!?
Only God knows.
;) hehehehe...
Finally...
Jadi punya banyak bacaan lagi, deh.. (tadinya sih semepet berpikir kayak gitu..), tapi ternyata..belum sampe seminggu novel-novel itu udah pindah tempat dari atas meja di kamar gue ke lemari buku di pojok ruangan. Dan gue terbiasa meletakkan buku-buku yang baru gue beli atau mau gue baca di atas meja di kamar gue, dan memasukkan buku-buku yang udah selesai dibaca ke lemari buku dan membiarkan mereka berjejer rapih di dalam sana, berdesak-desakkan bersama koleksi gue yang lain.
Dan itu artinya...lagi-lagi gue krisis bacaan..!! :'( Hiksssss...
*Menangis nelangsa MODE : ON*
Doooohhhh...!!
Dooohhhh...nyebelin, deh! Jadi serba salah!
Trus, gue harus gimana dunk?!?????
.....t.e.r.a.n.c.a.m.....
Punya prestasi akademis bagus, salah. Dibilang over qualified lah. Perusahaan nggak berani ngegaji, lah. Dan sejuta alasan lainnya.
Tapi punya prestasi akademik pas-pasan juga sama salahnya. Dibilang nggak kompeten, lah. Nggak memenuhi syarat akademis (yang biasanya memang mematok standar yang tinggi), lah. Dan lain-lain.
Yahhhh...intinya, semua jadi serba salah.
Prestasi akademik jelek, terancam DO.
Prestasi akademik bagus terancam dibilang ini itu.
Prestasi akademik pas-pasan juga sama, terancam luntang-lantung.
Kok jadi sama-sama susah ya?!
Hmpfff..!! :(
Susah....Susah...!!!
Ternyata makin lama nulisnya, makin banyak kesadaran tentang banyaknya kekurangan disana-sini.
Makin lama juga sih 'penjualan'-nya..
Tapi mau diselesaiin cepet-cepet juga ga dateng-dateng mood-nya.
Jadiiii....gw harus gimana donk?!? :(
Ternyata...menulis ga semudah yang selama ini gue lakuin. Apalagi kalo yang ditulis adalah sesuatu yang butuh daya khayal dan penyesuaian dengan kehidupan nyata, yah semacam creative writing gitu lah.
Pussssiiiiiinnnnngggggg.....!!!
BATU, Si Kecil Yang Besar
Kecil-kecil cabai rawit. Itu istilah yang maksudnya sesuatu yang kecil, yang biasanya diremehkan, tapi mempunyai kekuatan besar di dalamnya. Ibarat cabai rawit yang penampilan fisiknya kecil tapi rasa pedas yang dihasilkannya di lidah kita membekas dengan tajamnya. Beda banget kalau dibandingkan dengan cabai merah atau cabai hijau yang bodinya jauh lebih besar tapi nggak begitu terasa pedasnya. Nah, batu (khususnya kerikil yang berserakan dijalanan) itu ibarat si cabai rawit. Walaupun fisiknya kecil tapi ternyata sanggup melahirkan`akibat yang besar. Batu bisa bikin penyebab kecelakaan, baik, motor, mobil, ataupun untuk pejalan kaki. Gimana nggak, cuma gara-gara batu kecil yang terkadang berserakan di jalanan, seorang pengendara motor bisa terjatuh. Belum lagi sebuah batu yang terlindas oleh sebuah kendaraan, kemudian mental ke mobil di belakangnya dan terkena kaca depannya, otomatis si pengendara pasti kaget dan bisa mengakibatkan hilangnya konsentrasi si sopir yang akhirnya membuat suatu kecelakaan. Bisa juga batu tersebut menghantam kaca dengan kencang dan mengakibatkan kaca pecah dan pecahannya masuk ke mata. Sebuah batu yang teronggok tidak bertanggung jawab di jalanan ternyata sanggup melukai seorang pejalan kaki yang nggak sengaja menginjaknya, kemudian terjatuh karena tersandung. Besar kan akibat yang ditimbulkan sebuah batu yang fisiknya imut-imut itu?!?
Baru-baru ini, ada seorang pengendara motor yang terjatuh karena menghindari batu yang teronggok tak bertanggung jawab di depan gedung YTKI, Jakarta. Padahal motor itu nggak melaju dengan kecepatan tinggi. Dan parahnya, si pengendara motor itu sampai jatuh terlempar setelah terseret sebentar yang mengakibatkan sisi kiri motornya lecet parah, helm sisi kiri juga baret-baret parah, jelana jins dan jaket jins tebal yang juga sobek tergesek aspal, badan yang penuh luka, dan kaki yang bengkak segede kaki gajah. Bahkan si korban sampai nggak bisa jalan dan terpaksa harus vakum dari pekerjaannya untuk waktu yang lumayan lama. Dahsyat kan akibatnya, padahal cuma menghindari sebuah batu yang nggak bisa dibilang besar. Nggak salah kan kalau batu dibilang kecil-kecil cabai rawit?!?
Tapi kalau boleh saran..jalanan di sekitar jalan Gatot Subroto, MT. Haryono, dan sekitarnya itu memang nggak ramah sama para pengemudi, terutama pengemudi motor. Udah banyak lubangnya, aspal jalanannya juga bergelombang. Banyak banget korban (kecelakaan) yang terjadi di sekitar jalan itu. Apa pemerintah nggak berminat memperbaikinya? Kan bisa mengurangi tingkat kecelakaan lalu lintas yang terjadi di sekitar jalan itu. Lagipula, apa fungsinya petugas kebersihan jalan raya kalau batu-batuan juga masih berserakan di jalanan?!?
Si Pencuri Ide
Kalo ditanya gimana rasanya, gue akan bilang dengan sekuat tenaga : MENYEBALKAN!! Kalo yang dilakukan adalah meniru apa yang kita lakukan, sih masih lebih mending, karena setidaknya kita si pemilik ide udah mencoba ide kita duluan, baru dia yang jadi follower-nya. Setidaknya orang-orang udah lebih dulu tahu kalau kita yang duluan mencoba/memakainya. Bodo amat, deh dia mau ngikutin kita, toh dia sendiri yang malu jadi penjiplak. Tapi kalau yang diambil itu ide dasar kita yang belum sempat dilaksanakan?!? Apa kabarnya diri kita si pemilik ide?!? Mau ngakuin kalau ide itu milik kita, nggak mungkin, karena kenyataannya 'si-pencuri-ide' itu yang udah duluan berhasil mempublikasikannya. Sedangkan kita ssebagai pemilik ide cuma bisa gigit jari melihat dia dengan jumawa dan bangganya memamerkan 'hasil penemuan gadungannya' ke semua orang. Bete, kan?!?
Dan gue sering banget ngerasain hal terakhir itu. Orang lain mengambil ide gue sebelum gue sempat melakukannya. Emang bener, deh kalau jangan pernah mengungkapkan ide kita ke orang lain. Karena biar gimanapun juga kita nggak pernah tahu gimana kejujuran orang itu. Iya, gue memang menganggap pengambilan ide ini sejauh itu, termasuk dalam kategori jujur atau nggak jujur seseorang.
Dan itu bukan sekali ini dia berlaku kayak gitu. Udah sering banget! Dari masalah baju, casing HP, tas, dompet, perlengkapan make-up, dll. (saking banyaknya gue udah sampe nggak inget lagi). Emang, sih nggak semuanya dia ngambil ide dasar gue, banyakan jadi penirunya. Tapi tetep aja bete dan kesel banget!
Yang gue nggak habis pikir, kenapa dia nggak nanya dulu atau ngomong baik-baik dulu ke gue sebelum dia ngelakuinnya?!? Kalau orang kayak gitu enaknya diapain ya??!?? Mau diajak ribut, masih nggak enak karena masih termasuk orang terdekat. Mau didiemin kok kayaknya malah makin menjadi-jadi ya?!?!!!
Don't Judge A Book By Its Cover, Don't Judge A Person By His/Her Style
Don't judge a book by it's cover!! Ungkapan ini sebenarnya berlaku buat semua hal. Bahwa kita nggak boleh menilai sesuatu hanya dari kulit luarnya aja, karena apa yang terkandung di dalamnya belum tentu sama dengan apa yang terlihat dari luar.Kalau gue menilai pernyataan itu lebih ke arah positif. Maksudnya gini lho, pada kebanyakan kasus, pernyataan ini diartikan kalau yang terkandung di dalamnya pasti nggak jauh beda dengan apa yang terlihat dari luar. Misalnya aja, ada seseorang dengan wajah menyeramkan layaknya seorang pembunuh bayaran kelas kakap, tapi ternyata sifat yang dia punya justru baik banget. Padahal semua orang yang melihatnya sudah berkesimpulan kalau dia itu jahat sesuai dengan yang terlihat. Memang sih kalau semua itu bisa merugikan. Gimana nggak merugikan? Kalau si orang seram itu berniat mau menolong seseorang, tapi malah ditolak uluran tangannya cuma gara-gara orang yang akan ditolong takut melihat wajah dan penampilannya yang menyeramkan. Kan kasihan si orang seramnya yang udah berniat baik malah dicurigai.
Sayangnya di negara kita tercinta ini ungkapan itu masih banyak nggak berlakunya. Kebanyakan masih menilai sesuatu hanya berdasarkan apa yang terlihat di luarnya. Emang, sih kalau mengingat angka tingkat kejahatan di negara ini, khususnya di Jakarta yang sangat tinggi, kita jadi selalu merasa perlu untuk berhati-hati. Mungkin karena alasan itu pula mengapa kebanyakan orang cuma menilai dari luarnya aja, kalau dari luarnya seram berarti dia penjahat, begitu pun sebaliknya. Makanya penipuan juga jadi makin banyak, karena para penjahat yang bermuka 'baik-baik' bisa mengelabui korbannya dengan sangat mudah.
Tapi ada juga beberapa orang yang nggak menerapkan ini saat seleksi calon pegawai di perusahaan/institusi yang dia miliki/pimpin. Misalnya aj, gue pernah tau kalau ada sebuah institusi pendidikan informal (tempat kursus di Citra Gran, Cibubur) yang memilih calon pengajarnya berdasarkan apa yang terlihat. Si pemilik menilai pelamar hanya berdasarkan gaya berpakaian dan dari kampus mana si pelamar berasal. Gue ngerasa kalau si pemilik ini terlalu kolot jalan pikirannya, makanya gue jadi mengeluarkan statement baru : Don't Judge A Person By His/Her Style!!
Ada seorang pelamar dengan latar belakang pendidikan dari universitas swasta bergengsi di kawasan Jakarta Barat. Kampus itu memang terkenal dengan kalangan borjuis-nya. Setelah melewati tahapan tes tertulis, si pelamar melanjutkan dengan interview dengan pemilik. Dan si pemilik tanpa merasa perlu untuk berkenalan dengan pelamar tersebut langsung menyatakan bahwa dia nggak layak untuk bekerja di institusi miliknya. Awalnya si pemilik nggak mau memberitahukan alasannya, tapi setelah didesak akhirnya dia mengatakan : sejak awal saya melihat gaya kamu, cara kamu berpakaian, dan ditunjang dengan latar belakang pendidikan kamu dari universitas T yang terkenal dengan borjuis, saya langsung berkesimpulan kalau profil kamu nggak sesuai dengan tempat ini.
Mau marah nggak, sih?!? Padahal berdasarkan hasil tes tertulis, si pelamar dinyatakan lulus. Apa yang salah dengan celana bahan model lurus warna pink pastel yang dipadukan dengan kemeja pink muda yang lengannya digulung sampai atas siku dan ikat pinggang kecil warna hitam, serta flat shoes warna senada?!? Kayaknya itu setelan normal orang yang melamar kerja, deh! Nggak ada yang terlalu berlebihan, kan? Gaya rambut dan dandanan pun bisa dikatakan biasa, rambut ekor kuda dan make-up natural juga hal yang wajar bagi seorang pelamar kerja, kan?!? Terus apa yang salah dengan gaya si pelamar? Apalagi kalau dilihat dari almamaternya, memang apa yang salah dengan kampus borjuis?!? Apa semua yang lulus dari kampus itu terus anak orang kaya? Apa semua yang lulus dari kampus itu semuanya dianggap nggak akan becus dalam bekerja? Apa semua yang berasal dari kampus itu dinilai nggak bertanggung jawab?
Oke, kalau si pemilik sudah mewawancara si pelamar, mungkin ceritanya akan jadi beda. Mungkin ada sikap si pelamar yang nggak disukainya, atau gaya bicara yang dianggap nggak sopan. Nah, ini..belum masuk tahap perkenalan, si pemilik sudah men-judge si pelamar sejauh itu. Dan parahnya, dia memberikan stempel bahwa semua yang lulus dari universitas swasta sama sekali nggak pantas bekerja di tempatnya, karena dia menilai kalau mereka yang berasal dari universitas swasta itu nggak bertanggung jawab terhadap pekerjaan!!
Gila, kan?!? Betapa hebatnya si pemilik institusi itu bisa menghasilkan penilaian sejauh itu kepada seseorang hanya berdasarkan apa yang terlihat. Dan ternyata si pemilik sama sekali nggak punya latar belakang psikologi!! Dia mampu meremehkan seseorang hanya dari luarnya aja. Dia nggak pernah berpikir kalau mungkin saja orang tersebut ternyata memiliki potensi yang jauh lebih besar ketimbang yang dibayangkannya. Dia berpikir bahwa pengenalan lebih lanjut itu nggak penting, karena dia lebih percaya pada matanya.
PolPek Nggak (Lagi) Cepek

Tau PolPek kan? Iya, Polisi Cepek! Sebagian orang juga menyebutnya Pak Ogah (tokoh di film anak-anak "UNYIL" yang selalu meminta uang cepek). Maksudnya orang yang berdiri di setiap putaran balik ataupun persimpangan jalan yang padat dan tanpa traffict light. Biasanya mereka berfungsi sebagai polisi pengganti yang membantu si pengguna jalan yang ingin berputar arah (muter balik) atau melewati sebuah persimpangan yang sembrawut dengan imbalan sekeping logaman bernilai (minimal) seratus rupiah. Tugas mereka adalah menahan arus (memblokir jalanan) untuk suatu waktu tertentu, agar pengguna jalan yang akan putar arah atau menyeberangi simpangan yang crowded dan tanpa rambu lalu lintas bisa lewat dengan mudah.
Kenapa mereka terkenal dengan sebutan PolPek? Alasannya ya itu tadi, mereka berfungsi sebagai polisi yang mengatur jalanan tapi dengan imbalan sekeping uang logam seratus rupiah, atau yang dikenal dengan cepek. Makanya mereka dikenal sebagai PolPek alias Polisi Cepek.
Sebenarnya sih kalau dipikir-pikir, sekeping seratus rupiah nggak sebanding dengan resiko yang mereka dapat saat mereka menjalankan tugas mereka. Bayangin aja mereka harus pasang badan buat nyetopin mobil-mobil yang lewat dengan kecepatan tinggi. Kebayang kan resiko apa yang menunggu di depan mereka? Yup! Ketabarak mobil atau kendaraan lain yang nggak mau ngalah, akibatnya bisa luka-luka, cacat, atau bahkan meninggal.
Bayangin aja, kalau satu mobil ngasih cepek, misalnya sehari ada 500 mobil yang ngasih duit ke mereka, mereka cuma dapet 50ribu. Nggak banyak kan? Masalahnya, di satu puteran itu, PolPek nggak mungkin kerja sendirian, minimal mereka berdua, berarti uang hasilnya dibagi dua. Makin nggak dapet apa-apa lagi kan? Padahal sekarang biaya hidup udah mahal. Mau dikasih makan apa keluarga mereka?
Tapi gue salut banget sama PolPek ini, mereka bisa tahan kerja berjam-jam demi uang yang nggak seberapa. Emang, sih kadang kehadiran mereka bikin jalanan macet, karena mereka memberhentikan kendaraan yang lewat tanpa pertimbangan waktu. Tapi gimanapun juga, kehadiran mereka itu membantu, kok, apalagi di persimpangan yang ramai atau di putaran jalan yang arusnya padat. Dan mereka nggak pandang bulu dalam melaksanakan tugasnya, mau si pemutar ini memberikan kepingan-kepingan uang atau nggak, mereka tetap mencarikan jalan.
Sampai akhirnya seiring dengan kenaikan harga berbagai macam barang, kepingan-kepingan yang dilemparkan ke PolPek juga berubah nilai menjadi dua ratus rupiah, lima ratus rupiah (gopek), atau bahkan selembar uang kertas seribu rupiah. Dengan adanya perubahan itu, kepingan seratus jadi nggak berharga, mayoritas orang yang menggunakan jasa PolPek ini melemparkan sekeping lima ratus rupiah.
Dan gara-gara perubahan itu juga, jadi ada sebuah kejadian nggak enak di sebuah putara yang pernah gue alamin sendiri. Waktu itu gue sama teman-teman mau muter balik (daerahnya gue lupa), si supir memberikan dua keping uang logam dua ratus ke PolPek yang 'bertugas'. Itu pun karena emang nggak ada lagi uang receh di dalam mobil, bahkan setelah disurvey ke semua penumpang mobil yang rata-rata hanya punya uang lima ribu sebagai pecahan terkecil di dompet mereka. You know what? Si PolPek melemparkan uang pemberian kita ke kaca mobil dengan kencang (kena bagian belakang, karena posisinya saat itu mobil udah muter balik) sambil berteriak dengan lantangnya, "Dua ratus nggak dapet apa-apa!!" Dan pas dilihat, kaca mobilnya baret karena lemparan kencang uang logam itu.
Dari situ, gue jadi agak-agak menarik simpati gue ke PolPek ini. Emang sih nggak semua PolPek berkelakuan kayak gitu, tapi tetep aja gue udah terlanjur kesel. PolPek bukan lagi sekedar sampingan, tapi udah jadi sebuah mata pencaharian beberapa kalangan penduduk di Indonesia. Makanya saat kita memberikan uang yang nggak sesuai dengan yang mereka harapkan, mereka jadi marah yang imbasnya bisa sampai merusak properti kita.
Keramahan & Satisfaction a la Burger&Grill
Ternyata yang namanya keramahan dan customer satisfaction udah gak menjadi suatu hal yang harus diberikan oleh para pemilik usaha kepada pelanggannya dan menjadi suatu hal yang tidak penting untuk diperhatikan. Terlebih untuk mereka yang usahanya sudah tergolong "banjir" pengunjung.Let me say, B&G adalah salah satu tempat makan yang udah punya lumayan banyak cabang di Jakarta. Ini berarti pelanggannya juga udah banyak dan dari berbagai lapisan masyarakat n' kategori umur. Tapi sayangnya, mereka lupa kalo apa yang mereka dapetin sekarang itu gak lepas dari peran para PELANGGAN!! Karena mereka gak lagi mengutamakan customer satisfaction.
Suatu hari, karena tuntutan tugas gw buat ngeliput bebarapa resto/cafe, gw memilih B&G sebagai salah satu nara sumber gw. Gw dateng ke salah satu cabangnya di pinggir selatan Jakarta n' ketemu sama penanggung jawab (katanya, sih..) disana. Gw ngasih contoh majalah, surat ijin peliputan , n' ngejelasin tentang tema majalah YAD. Pas malem itu kita ketemu, si penanggung jawab ramah banget nanggepinnya, apalagi pas dia tau kalo gw dari media dan bakalan ngeliput mereka GRATIS alias FREE OF CHARGE!! Pokoknya welcome banget, deh bahkan langsung bersedia untuk diliput, cuma tinggal konfirmasi waktunya aja. Akhirnya mereka ngasih dua nama sbg contact person, n' gw janji buat telpon mereka lagi buat konfirmasi waktu liputan. Besok sorenya gw coba telpon, tapi gak pernah bisa (mgk karena telpon yg mereka gunakan bukan fixed phone, jadi ada pengaruh signal). Finally, gw baru berhasil telpon mereka hari Senin. Gw langsung minta ngomong langsung sama salah satu dari contact person itu (yang ternyata salah satu dari mereka lagi off). Anehnya, pas gw tanyain gimana2nya, si A cuma bilang kalo dia gak bisa mutusin apa2, harus tunggu si B!! HElllooooo....plis, deh mas..kalo gak punya hak buat mutusin knapa juga ngasih nama n' nomer tlp buat konfirmasi!!??!!? Soooo...gw baru dpt kepastiannya hari Selasa buat liputan hari Kamis sore JAM 16.00 atau 17.00!!
Kamisnya, gw n' fotografer , bahkan sama GM gw juga - yg ternyata mau ketemuan sama temennya - dateng ke sana jam 17.35 dan langsung nyari sang contact person. Begitu manusianya nongol di depan muka gw, gw langsung nyodorin tangan buat salaman sambil nyebutin nama n' nama media gw, tapi apa responnya?? DIA GAK NANGGEPIN ULURAN TANGAN GW alias KITA GAK SALAMAN!!! Buat gw ini udah salah satu cermin ketidakramahan!! Dan dia malah ngeliat jam yang melingkar di pergelangan tangannya dengan gaya angkuh dan nada suara arogan dan judes, sambil bilang : jam berapa ini? saya tungguin dari tadi siang, tapi baru dateng sekarang. (Yuhuuuuwwww, mas2..gw bukan lagi anak SD yg bisa lo perlakuin kyk gitu! Dan gw rasa dia gak punya hak sama skali buat memperlakukan itu smua ke gw!) Gw masih coba buat ngejelasin kenapa kita telat dateng ke situ, tapi dia tetep aja JUTEK!! (wlpun sebenernya gw lebih percaya kalo tu orang gak nyambung/gak nangkep sama apa yg gw omongin, secara mukanya mlongo n bengong mampus gitu!!).
Stlh gw ngobrol2 dikit tentang bahan liputan hari itu, tau2 dia bilang kalo mereka udah siapin soto bakar n' burger buat bahan liputannya! Jelas aja gw kaget, secara gw udah bilang sebelumnya bahwa temanya steak and barbeque!! Dia masih berusaha meyakinkan gw kalo gw gak konfirmasi sebelumnya tentang itu smua! Dan dia malah mau ngebuktiin dengan ngambil proposal gw. Pdhal gw udah ngomong pas malem2 gw dateng kesana!! Berhubung gw inget kalo image media gw tetep harus dijaga (wlpun sebenernya gw udah dongkol setengah mampus, apalagi pas dia nantangin buat ngambil proposalnya)..akhirnya gw cuma bsa bilang : saya tanyain sama bos saya dulu, deh mas. Dan lagi2 tu orang gak nyambung, abis gw bilang gitu, dia langsung bangun dari kursi dan ninggalin meja tempat kita ngobrol TANPA PERMISI!! Ini udah jadi pertimbangan kedua gw buat masalah keramahan mereka.
Akhirnya gw putusin buat ngebatalin liputan disitu, secara gak nyambung banget sama temanya. Dan gw memilih duduk bergabung sama GM gw. Tadinya gw udah mau ngelupain smua kejadian gak enak antara gw dan pihak B&G ini, dan gw berniat memesan menu disitu dan MEMBAYARNYA!! Tapi sampe berkali2 gw manggil2, pelayannya gak ada yg nyamperin gw buat ngebawain menu!! Ini udah pertimbangan puncak gw buat nominasiin B&G sebagai tempat makan dengan SERVIS BURUK!!
Bayangin, setelah semua kejadian dengan sang contact person, gw duduk disitu sebagai seorang tamu/pelanggan yg seharusnya dilayani dengan baik..bukannya malah dicuekin. Dan yg sangat gw sayagkan, sang contact person keliatannya adalah seseorang yang lumayan punya jabatan disitu. Kalo atasan - yang harusnya ngasih contoh baik ke bawahannya - aja gak menerapkan customer satisfaction n' memeprlakukan pelanggan dengan ramah, gimana bawahannya mau ngikut??!!
Dari situ gw sempet mikir, kenapa perusahaan2 gede itu punya banyak pertimbangan dan tahapan buat perekrutan pegawainya..salah satu alasannya ya itu, karena mereka pengen ngedapetin pegawai yang terbaik di antara yang baik. Seperti kata dosen MSDM gw di S2, di dunia kerja, orang kita itu cuma butuh koneksi n' muka penjilat buat sekedar dapet kerjaan (yg cuman asal bisa dapet duit). Mereka gak menyeimbangkan antara brain dengan attitude yang mereka punya, cukup punya salah satunya aja udah aman. Makanya gak jarang kan kita nemuin orang di keramaian/tempat2 usaha yang ramah tapi gak nyambung kalo diajak ngomong, atau sebaliknya. Atau bisa juga mereka gak punya dua2nya, karena mereka udah ngerasa posisi mereka di atas, yang bisa seenaknya memperlakukan orang lain tanpa mereka berpikir siapa orang itu..padahal di atas langit masih ada langit!!
