...semburat ketulusan dalam balut kesederhanaan...
Showing posts with label Kata Mata-Hati-Telinga. Show all posts
Showing posts with label Kata Mata-Hati-Telinga. Show all posts

Obrolan Ringan yang Menyentil

Beberapa waktu lalu saya sempet chatting ringan sama salah satu teman saya. Dia nanyain soal blog ini, kenapa lama vakum dan ga ada tulisan-tulisan baru dalam jangka waktu yang cukup panjang. Jawaban saya waktu itu cuma cengengesan ga jelas. Padahal aslinya saya lagi dihantui Setan Malas!!

Sampai akhirnya dia juga nanyain soal Flash Fiction yang pernah beberapa kali saya tulis. Pertanyaannya pun sama, kenapa saya ga pernah lagi nulis flash fiction. Lagi-lagi jawaban saya waktu itu, ya cengengesan ga jelas via emoticon di YM.

Tapi ya itu tadi, alasan dasar dan utama saya ga pernahmenulis lagi (apapun jenisnya), ya karena saya sedang dihantui Setan Malas!! Yang membuat saya malas melakukan apapun, termasuk bangun pagi dan mandi pagi! :) Parah memang...tapi akhirnya, perlahan saya bisa menyingkirkan Setan Malas itu--sedikit demi sedikit. 

Makanya, supaya Setan Malas-nya ga datang menghantui lagi, sekarang saya mau post 3 judul Flash Fiction saya. Sebenernya, sih 3 judul FF ini adalah judul-judul yang saya post di blog Ubud Writer Festival 2010, tapi berhubung acaranya juga udah selesai dan saya ga menang, jadi ga ada salahnya kalau saya post semua itu di blog ini.

And here they are, my 3 Flash Fiction which will post into 3 blog tittles after this post!

Just read and enjoy them, and if you don't mind, please give your comment. ;)

Tukar Nasib

Hikshiks..
*Terharu Mode : ON*

Abis nonton acara Tukar Nasib di TV (lupa stasiun TV-nya apa) dan saya merasa terharu. Ternyata...masih banyak banget penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan (pra sejahtera). Mereka hidup seadanya (bahkan sangat seadanya), dengan rumah untuk mereka tinggal pun nggak bisa dimasukkin kategori layak huni (kebetulan yang kemarin saya tonton, rumahnya bisa dikatakan jadi satu dengan kandang hewan ternak).

Tapi saya salut pada mereka, dengan semangat hidup yang mereka punya yang mendorong mereka untuk tetap mensyukuri apa yang mereka punya tanpa mengeluh, sehingga sampai hari ini mereka masih sanggup bertahan hidup.

Dan saya sangat setuju dengan
tagline di akhir acara :
...Kaya Miskin Semua Sama di Mata Tuhan...


Terima Kasih Luka

Entah berapa tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit, detik yang telah berhasil aku lewati tanpa kamu. Entah berapa banyak energi yang aku buang percuma hanya untuk melupakan kamu. Entah berapa banyak pelarian yang aku lakukan hanya sekedar untuk menghilangkan segala luka yang pernah kamu buat untukku. Entah berapa banyak air mata yang menetes hanya untuk menangisi kamu. Entah berapa banyak asa yang telah aku korbankan hanya untuk mengobati luka yang kamu tinggalkan.

Tapi akhirnya aku berhasil...
Aku sanggup mengenyahkan kamu dari pikiranku.
Aku sanggup membuang kamu dari hatiku.
Aku sanggup mengenyahkan kamu dari hidupku.

Hingga khirnya aku mampu...
Aku berhasil melupakan kamu dan segala kekejaman yang kamu lakukan.
Aku berhasil menutup luka hati yang sekian lama menganga karenamu.
Aku berhasil memaafkamu dengan segala ketulusan yang aku punya.
Aku berhasil merelakanmu melenggang pergi dari kehidupanku.

Dan akhirnya aku benar-benar melupakanmu. Walaupun rasa sakit yang kau tinggalkan tidak benar-benar menghilang dari diriku. Tapi aku bisa berkata : aku memaafkanmu.

Dan aku kembali dapat membuka rasaku untuk yang lain. Aku bisa membiarkan seseorang kembali memasuki hidupku, dengan segala manis yang dia tawarkan. Dan dengan segala sakit yang mungkin saja dia tinggalkan, sama seperti kamu.

Tapi nyatanya tidak. Nyatanya aku bisa membiarkannya memperbaiki kerusakan yang kamu tinggalkan. Hingga hari ini, ketika aku tau sebuah kenyataan tentang kamu, tentang aku, tentang kita. Dan rasa sakit itu kembali menyambangiku.


Hingga hari ini...